Aksi
Kampanye
Kampanye
Aksi
Kabar Basis
‹
›
Kampanye
Ekspresi
Solidaritas
Artikel
SEKBER BURUH TV
![]() |
| Jon Silaban |
KAU
Kau adalah saudara kami
Terikat dalam satu darah pembebasan
Kau adalah api semangat berjuang
Yang menyatu pada setiap derap barisan massa yang sadar
Kau adalah gemuruh di langit
Teriakanmu menyatu pada setiap barisan massa yang terdidik
Kau bagian dari darah dan nadi perlawanan kaum buruh Indonesia
Yang akan tetap hidup dalam api perlawanan menuju 100% Merdeka
Kau tidak Mati, karena kader terbaik tidak pernah hilang di telan zaman
Kau tetap hidup, karena semangat pembebasanmu terus bergerilya
Ekspresi - SEKBER BURUH TV
![]() |
Buruh perempuan
Berkeringat
Membasahi bumi
Yang gelap
Energi yang kau curahkan
Begitu besar tlah kurasakan
Terhanyut dalam kesombongan terlupakan
Gemerlap cahayamu
Membentangi garis kehidupan
Ada lara rintih caci maki
Kau hadapi
Keringat dan ketegaranmu
Mengalir deras tak ternilai
Hanya tetes darah dan air mata
Yang kau curah
Ooo Marsinah
Kau termarjinalkan
Ooo Marsinah
Matimu tak sia sia
Ekspresi
![]() |
| Jagal |
"Dalam hal jumlah orang yang dibunuh, pembantaian anti-PKI di Indonesia menempati salah satu pembunuhan massal paling parah dalam abad 20". (Studi CIA pada tahun 1968)
Pada tahun 1965-1966, rejim militer sayap kanan yang merebut kekuasaan di Indonesia membantai dengan brutal hingga satu juta orang, khususnya para aktivis dan simpatisan Partai Komunis. Pihak Barat yang "demokratis" tidak hanya tidak memprotes tindakan tersebut namun dalam kasus-kasus tertentu malah menyerahkan daftar orang yang dianggap berbahaya dan dengan demikian harus dibantai, sebagaimana yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui CIA. Joshua Oppenheimer telah menghasilkan suatu film/dokumenter mengagumkan yang mana para pelaku atau bisa disebut sebagai para pembantai, berbicara dan memperagakan-ulang apa yang mereka lakukan pada 1960an.
"Kalau kita sukses bikin film ini,
Ini akan membuktikan kesalahan propaganda bahwa kaum komunis kejam,
dan membuktikan bahwa sebenarnya kita yang keam
Kita yang lebih kejam, hahaha
(...)
"Ini bukan tentang takut
Itu sudah terjadi 40 tahun lalu, jadi kasus kami sudah kadaluarsa
Ini bukan tentang takut. Ini tentang image
Seluruh masyarakat akan berkata:
"Kami sudah curiga. Mereka bohong kalau bilang kaum komunis, lah, yang kejam".
(Salah satu pembunuh)
Jangan harap kita menemui dokumenter sejarah konvensional. Jangan harap kita akan menemui cerita panjang berupa kumpulan pengakuan para keluarga korban pembantaian 1965-1966 di Indonesia. "The Act of Killing" tidak akan menyajikan latar belakang yang umum seperti itu. Siap-siaplah untuk menyaksikan hal yang lebih dahsyat, lebih meyakinkan, lebih menganggu, lebih mengerikan, dan bahkan lebih memikat. Bersiaplah untuk suatu fiksi-dokumenter yang lebih kuat dari berbagai film/dokumenter lainnya dalam memberikan kontribusi membantah propaganda resmi pemerintah yang menutupi pemusnahan satu juta komunis. Bersiaplah untuk sesuatu yang membantu mencabut kebohongan dan ketakutan terhadap komunisme yang berulang kali ditanamkan melalui kekerasan dan terror sistematis selama berlapis-lapis generasi yang berbeda. Salah seorang aktivis pernah mengatakan pada saya bahwa ketakutan terhadap komunisme ini ditularkan nyaris bersamaan dengan susu ibu. Maka bersiaplah untuk menyaksikan suatu cerita yang bukan dituturkan oleh korban melainkan oleh para pelaku yang secara harafiah ada di pusat panggung pembantaian tersebut. Dengan cara yang paling mengejutkan, film ini memperagakan kembali kekerasan, penyiksaanm dan pembunuhan yang dilakukan oleh gerombolan pembantai di Indonesia sejak Oktober 1965.
Joshua Oppenheimer, Sutradara The Act of Killing, berhasil dalam mencapai suatu hal yang luar biasa: memenangkan kepercayaan diri beberapa pembunuh dan penyiksa 1965 dan meyakinkan mereka untuk mendokumentasikan detil langkah demi langkah kegiatan mereka di lokasi kejadian yang asli, serta menjelaskan mimpi buruk-mimpi buruk mereka dan mengomentarinya. Sang sutradara mendorong mereka menguraikan pengalaman dan ingatan mereka serta menuliskannya ke dalam naskah film. Maka jadilah hal ini suatu film di dalam film. Mereka melakukannya dengan keteruseterangan yang blak-blakan di depan kamera, sembari menari, menyanyi, dan tertawa-tawa. Alih-alih menemui para pembunuh yang menyangkal tindakan mereka atau mencoba menggambarkan para korban sebagai pihak yang bersalah dan bertanggung jawab terhadap nasibnya sendiri, disini mereka menyatakan secara gamblang bahwa mereka bertanggung jawab atas semua yang telah mereka lakukan. Bahkan lebih parah, mereka malah menyombongkan perbuatan mereka. Dalam hal demikianlah dokumenter ini menampakkan paling jelas mengenai keterlibatan para pelaku pembantaian 1965-1966, bahkan lebih jelas dibanding film dokumenter manapun yang pernah dibuat sebelumnya.
Tokoh utama The Act of Killing adalah Anwar Congo, seorang preman muda di tahun 1960an, yang bekerja sebagai pencatut karcis bioskop di kota Medan, Sumatera Utara. Dia dan teman-teman satu komplotannya merupakan para penggemar film-film Hollywood, yang bergaya seperti James Dean, dan bahkan sempat mengorganisir suatu kelompok penggemar aktor tersebut. Saat Partai Komunis Indonesia menyerukan boikot terhadap film-film Amerika maka pendapatan Anwar Congo dan teman-temannya langsung menurun drastis. Hal ini yang kemudian memicu kebencian mereka dan preman-preman lainnya terhadap kaum komunis. Saat militer merencanakan pembantaian fisik terhadap PKI, mereka bersandar pada bantuan dari para preman tersebut dan juga pada banyak unsur lumpen di berbagai kota. Mereka juga merupakan para pimpinan lokal dari geng politik paramiliter yang disebut sebagai Pemuda Pancasila. Mereka menjadi bagian dari apa yang dijelaskan buku sejarah Indonesia sebagai "Kampanye Patriotis". Hal ini membuka gerbang terhadap segala hal yang sebelumnya tidak mungkin dibayangkan akan dilakukan oleh manusia sebelumnya. Preman-preman ini, dengan menggunakan imajinasi sakit mereka, menjelaskan bahwa mereka terus menerus menemukan cara baru dalam menyiksa dan membunuh. Karena mereka sebelumnya telah membunuh banyak orang dan menyadari bahwa pembunuhan tersebut menyita banyak waktu maka mereka menemukan cara baru yang mereka anggap lebih efisien. Dalam film ini mereka juga menjalankan peran antara pelaku dan korban secara bergantian. Hal ini kemudian mengarah pada berbagai perbincangan dan refleksi yang mengejutkan.
Dibutuhkan upaya khusus dalam berimajinasi untuk memahami dampak pembantaian massal ini terhadap kesadaran berbagai generasi Indonesia yang berbeda. Rakyat Indonesia secara disengaja dicecoki dampak ini oleh Kedikatoran Suharto dan para Jenderalnya melalui propaganda dan penindasan secara terus-menerus.
Trauma Nasional
Kami menanyai salah satu pimpinan gerakan 1998 yang menumbangkan Suharto mengenai bagaimana perasaannya dan keluarganya mengenai pembantaian 1965:
"Saya tidak memiliki pengalaman langsung dengan pembantaian massal 1965, karena saya baru lahir satu dekade kemudian. Namun saya merasakannya sebagai suatu trauma kolektif. Kakak ibu saya adalah seorang pimpinan Partai Komunis di tingkatan desa, ia dibunuh di hadapan keluarganya. Semua orang menceritakan bagaimana dia dibunuh saat saya masih kecil. Sampai kini kengerian tersebut masih terasa.
"Ayah saya juga hampir dibunuh saat itu, namun dia berhasil selamat. saat itu terdapat debat semalaman di antara para pembunuh yang mendiskusikan apakah ayah saya juga akan dibunuh atau tidak. Akhirnya diputuskan bahwa dia tidak dibunuh. Namun keadaan jiwanya sudah terguncang hebat dan hingga kini masih dalam keadaan rawan. Dia akhirnya mengalami sakit jiwa pada tahun 1998 saat pihak militer memburu saya.
"Singkat kata, saya pikir pembantaian massal 1965 menjelma menjadi trauma kolektif hampir untuk semua orang, bukan hanya terhadap mereka yang memiliki pengalaman langsung namun juga terhadap mereka yang memahami kisah tersebut."
Namun rasa takut tersebut kini tengah runtuh. Generasi baru telah tumbuh dan sadar politik serta semakin tertarik pada komunisme dan sejarah PKI. Lapisan-lapisan baru kaum pekerja dan kaum pemuda yang belum pernah dicekoki propaganda anti-komunis maupun yang belum pernah hidup dalam suatu lingkungan dimana tabu-tabu komunis hadir dalam segala aspek hidup mereka, kini mencari penjelasan-penjelasan historis.
Suatu perhatian istimewa diberikan dalam film dokumenter ini terhadap Pemuda Pancasila, suatu gerakan pemuda paramiliter dan hubungannya dengan negara. Pemuda Pancasila adalah milisi dengan jutaan anggota (terdiri dari tiga hingga lima juta orang) yang terdiri dari para preman, penjahat kelas teri, dan pemuda sektor informal dan para pemeras atau pemalak. Pemuda Pancasila merupakan hasil dari upaya untuk menciptakan basis massa terorganisir sebagai suatu reaksi melawan organisasi pemuda PKI, yaitu Pemuda Rakyat di tahun 1960an. Pemuda Pancasila secara khusus aktif di Sumatera Utara (Medan dan Aceh) dalam membantai kaum komunis. Mereka juga berafiliasi ke partai kediktatoran yaitu Partai Golkar. Gerakan ini masih eksis hingga saat ini sebagaimana yang ditampilkan dalam film dokumenter. Apa peran mereka saat ini? Jusuf Kalla, wakil presiden Indonesia, memberikan jawaban terus terang dalam pidato yang ditampilkan dalam film dokumenter ini. Dia menjelaskan dalam pertemuan dan di hadapan para kader dan pendukung politik Pemuda Pancasila:
“Semangat Pemuda Pancila, beberapa orang sering menuduh mereka sebagai organisasinya preman. Preman adalah orang yang bekerja diluar sistem, bukan di dalam pemerintahan. Kata preman berasal dari kata 'free men'. Bangsa ini butuh 'free men'. Kalau semua orang bekerja untuk pemerintah maka kita akan menjadi bangsa birokrat. Tidak ada yang selesai. Kita butuh preman untuk menjalankan sesuatu. Preman yang menyelesaikan pekerjaan. Kita butuh preman, yang berani mengambil resiko dalam pekerjaan. Gunakan otot! Otot bukan untuk berkelahi. Walaupun berkelahi itu kadang diperlukan. (tawa dan tepuk tangan membahana)”
Dalam kesempatan lainnya, pada suatu rapat akbar Pemuda Pancasila, Yapto Sorjosoemarno, Ketua Pemuda Pancasila, membacakan pidatonya di depan ribuan anggota Pemuda Pancasila dan para pejabat pemerintah, dan sekali lagi menyorot basis keberadaan Pemuda Pancasila:
"Semua anggota Pemuda Pancasila adalah para pahlawan yang memusnahkan kaum komunis, memerangi kaum neo-komunis dan ekstrim kiri, dan siapapun yang berkeinginan untuk memecah belah negara."
Merupakan suatu kesalahan bila kita menganggap bahwa Pemuda Pancasila merupakan milisi yang terdiri dari unsur-unsur lumpen dari atas ke bawah. Para pimpinan Pemuda Pancasila sebagian besar adalah orang yang memiliki pendidikan sangat tinggi, sekaligus memiliki koneksi-koneksi bisnis dan politik. Yapto adalah seorang pengacara yang menyelesaikan pendidikannya di Belanda. Dia juga memiliki sejumlah perusahaan. Ayahnya, seorang pensiunan Mayor Jenderal, merupakan anggota ningrat Jawa. Disini kita menyaksikan bagaimana premanisme, militerisme, kapitalisme, dan feodalisme membentuk jaringan interdependen yang kompleks.
Pemuda Pancasila adalah milisi sipil yang terdiri dari para preman yang disponsori pemerintah dan perusahaan-perusahaan swasta dan seringkali dikerahkan untuk menangani masalah keamanan dimana pihak kepolisian dianggap tidak efektif. Mereka adalah suatu jaringan kejahatan terorganisir dan milisi politik yang digunakan untuk mengintimidasi lawan-lawan mereka dan untuk mengintimidasi orang-orang kiri pada umumnya. Mereka merupakan organ pelengkap terhadap organ-organ represi negara lainnya. Indonesia penuh dengan segala macam milisi. Selain Pemuda Pancasila, juga terdapat banyak kelompok fundamentalis Islam yang aktif di tahun 1965-1966 dalam membunuhi orang-orang yang mereka anggap "atheis tak bertuhan". Walaupun mereka merupakan ancaman yang nyata dan berbahaya yerhadap gerakan buruh dan tani serta terhadap kaum kiri pada umumnya, mereka langsung kehilangan kehebatannya begitu massa turun memenuhi jalanan.
November 1998 menyaksikan kebangkitan kedua kaum mahasiswa dan massa perkotaan setelah jatuhnya Suharto. Habibie, kloning politiknya, dipasang di kursi kekuasaan untuk memberi kesan penampakan perubahan sembari menjamin pelestarian sistem yang masih berkuasa. Arak-arakan demonstran menyerukan "Gulingkan Habibie, kloning Suharto". Di titik ini mobilisasi jutaan orang memenuhi jalanan dan perkotaan. Pihak militer mengerahkan 30.000 tentara, 16 kapal perang yang sudah merapat di pelabuhan, termasuk satu kapal selam, dan satu peluncur roket. Bahkan rezim penguasa telah mengerahkan 125.000 preman dari seluruh penjuru ke kota sebagai penghadang para demonstran. Mereka gagal, karena kaum miskin dan pekerja dari berbagai lingkungan rakyat juga bangkit melawan mereka bersenjatakan golok, tongkat, dan pisau. Beberapa hari kemudian militer (dedengkot preman yang sesungguhnya) menarik diri agar tidak memicu pemberontakan yang makin meluas terhadap mereka. Hal ini merupakan indikasi bagus mengenai batas-batas pengerahan milisi-milisi demikian dalam suatu perjuangan kelas. Meskipun demikian massa yang diorganisir secara longgar di jalanan tidaklah cukup untuk melawan milisi-milisi Islamis sayap kanan. Langkah-langkah yang diambil oleh Federasi Serikat Pekerja Metal untuk mendirikan Garda Metal untuk melindungi demonstrasi mereka adalah suatu langkah yang bagus. Hal ini perlu diperluas dan dilakukan oleh serikat-serikat lainnya dan digunakan untuk melindungi pertemuan-pertemuan sayap kiri dari serbuan-serbuan fisik.
Impunitas
Suatu pertanyaan yang menyelimuti dokumenter ini adalah: Bagaimana bisa Joshua Oppenheimer meyakinkan para pembunuh 1965 untuk bicara dengan begitu blak-blakan di depan kamera? Di satu sisi adalah pertanyaan mengenai bagaimana memenangkan kepercayaan mereka selama tujuh tahun lamanya. Lalu di sisi lain adalah adanya perasaan impunitas atau kekebalan hukum. Namun hal ini tidak sepenuhnya terkait kekadaluarsaan kasus-kasus tindak kejahatan mereka. Apa yang lebih penting adalah adanya perasaan tidak bisa disentuh oleh hukum karena mereka memiliki para pelindung yang kuat dalam aparatus negara (yaitu para gubernur, editor-editor surat kabar, pejabat-pejabat militer, serta para politisi termasuk para politisi yang menempati jabatan tertinggi dalam sistem kekuasaan yang masih berlaku hingga hari ini), serta status mereka sebagai para pahlawan nasional dalam sejarah resmi.
Seperti yang kita bisa duga bahwa film ini tidak diputar di bioskop-bioskop lokal Jakarta, Medan, ataupun Surabaya. Pemerintahan "demokratis" ini tidak mengijinkan penyebarannya. Meskipun demikian, dalam beberapa bulan belakangan ini, para pemuda di seluruh Indonesia aktif menyelenggarakan pemutaran film The Act of Killing yang banyak di antaranya merupakan pemutaran rahasia. Antusiasme dimana para pemuda menonton dan merespon film dokumenter ini merupakan gejala jelas bahwa terdapat perubahan-perubahan dalam pola pikir pemuda, pelajar-mahasiswa, dan juga kaum pekerja. Mereka kurang terbebani oleh propaganda "Orde Baru" dan cenderung bersimpati terhadap komunisme. Ketakutan dan tabu anti-komunisme tengah menurun drastis.
"The Act of Killing" memberikan sumbangan besar dalam mengembalikan kebenaran sejarah dan membantu pengembalian ingatan kaum komunis yang dibantai. Sebagaimana yang dikisahkan oleh aktivis lainnya: "Saya benar-benar terkesan oleh luasnya jangkauan konspirasi di balik pembantaian terhadap PKI."
Meskipun demikian, film dokumenter ini menyisakan suatu hal yang sangat penting bilamana kita ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi di 1965-1966. Bagaimana mungkin suatu partai Komunis terbesar di luar Uni Soviet dan Eropa Timur dibantai sampai berkalang tanah tanpa sedikitpun perlawanan yang berarti? PKI memiliki tiga juta anggota dan pendukung sebanyak 15 juta hingga 20 juta orang yang tersebar dalam berbagai organisasi massa. PKI sangatlah kuat.
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut bukanlah karena persiapan pembantaian sistematis dan hampir mendekati tingkatan industrial. Bukan juga karena mereka lebih "kejam" daripada kita (yang memang faktanya selalu demikian). Bukan juga karena negara saat itu terlampau kuat (karena PKI memiliki banyak dukungan dari dalam angkatan bersenjata yang 40% di antaranya bersimpati terhadap PKI). Penjelasannya terletak bukan pada kurangnya senjata di tangan anggota komunis maupun absennya kelompok pertahanan buruh dan tani. Karena sebenarnya PKI memiliki senjata.
Jawabannya bersifat politis. PKI dan kader-kadernya secara politis dilucuti di hadapan serangan brutal negara dan preman-preman yang melayaninya. Penjelasannya terletak dalam politik dan kebijakan-kebijakan pimpinan PKI itu sendiri (untuk analisis yang lebih menyeluruh mengenai alasan-alasan politik ini.
PKI adalah suatu Partai Stalinis yang mana strategi politiknya diilhami oleh teori "dua tahap". "Teori" ini mengklaim bahwa kelas pekerja di negara-negara seperti Indonesia tidak siap untuk sosialisme. Prioritas pertamanya adalah konsolidasi kapitalisme dan pendirian aliansi dengan kaum yang mereka sebut sebagai borjuasi nasional, yaitu presiden Sukarno. Aliansi ini, yang membingungkan dan melumpuhkan PKI pada saat-saat yang menentukan, akhirnya terbukti fatal.
Selama hari-hari dan minggu-minggu awal permulaan pembantaian, para pimpinan PKI mencoba menenangkan dan meyakinkan kembali massa pendukungnya dengan harapan bahwa Bung Karno akan melindungi mereka. Namun perlindungan tersebut tidak pernah datang. Dalam peperangan, sebagaimana dalam perjuangan kelas, angka bukanlah satu-satunya faktor penentu. Inisiatif untuk penyerangan, dedikasi untuk mencapai tujuan-tujuan perjuangan dan bagaimana hal itu diperjuangan merupakan faktor-faktor yang bobotnya lebih berat dari sekedar angka. Namun faktor penentu ini ada di pihak musuh kelas yang bengis. Kebimbangan dan keraguan politik menghinggapi pihak pimpinan PKI.
"Jarang terjadi bahwa suatu partai sebesar PKI malah menggantungkan diri dengan penuh kepercayaan dan penuh harapan serta mengakomodasi dirinya pada suatu pecahan kelas yang disebut sebagai "borjuasi nasional" sementara di sisi lain mereka hanya sedikit sekali memahami borjuasi nasional,” ungkap Rex Mortimer dalam buku Komunisme Indonesia di bawah Sukarno - Ideologi dan Politik 1959-1965. Kini kita tahu apa konsekuensi pengabdian PKI terhadap kaum borjuasi nasional ini.
Pelajaran-pelajaran demikian harus dipelajari melalui studi sistematis Marxisme sejati (bukan karikatur Stalinisnya) dan dengan pengembangan kader-kader solid sejati yang berakar dalam gerakan. Perjuangan kelas Indonesia akan memberikan peluang berbeda di masa depan agar kelas pekerja mampu merebut kekuasaan dan menggulingkan kapitalisme. Keberhasilan perjuangan demi mewujudkan Indonesia sosialis akan menjadi penghargaan sekaligus pembalasan terbaik bagi kaum komunis yang mati hampir 50 tahun yang lalu.
Telah diterbitkan di Militan
Ekspresi
Dengan mataku sendiri, di Warsawa
aku telah melihat peringatan kekejian terhadap Yahudi
kekalutan manusia akibat bom,
perang, yang mencabik-cabik kemanusiaan dan semua yang dilahirkannya.
Tapi aku juga telah melihat apa yang bisa dicapai oleh cinta,
apa yang bisa dilakukan oleh kekuatan seseorang yang bahagia.
Karenanya, dan karena, di atas segalanya, aku begitu bergairah akan perdamaian,
aku butuh kayu dan senar bagi gitarku,
agar aku bisa memaknai kesedihan dan kebahagiaan,
membasuhkan sajak bagi hati yang terbuka-lirih,
menggariskan arah yang bisa membantu kita semua takzim
serta sanggup melihat dunia dengan pandangan baru—Victor Jara
Victor Jara (baca: Viktor Hara), jelas memberi pengaruh yang sangat penting bagi musik dan kebudayaan Chile. Hidupnya merupakan cerminan negerinya, rakyatnya dan filsafat hidupnya.
Ia dipenjara pada tanggal 11 September, 1973. Di penjara, ia kukuh ingin bernyanyi, ia nyanyikan lagu Venceremos (Kita Pasti Menang)—lagu perjuangan Front Rakyat, yang dipimpin Salvador Allende—tentara geram, tak sudi mendengarkannya bernyanyi bersemangat dengan gitarnya, mereka meremukkan tangannya dengan popor senjata. Akhirnya, mereka bunuh Victor pada tanggal 16 September, 1973, saat berusia 40 tahun.
Jenazahnya tergeletak membusuk di pinggiran kota Santiago, Chile, saat ditemukan penghuni kampung kumuh yang mengenalinya, yang menyerahkannya ke pangkuan isterinya, seorang penari balet, Joan Jara,
Penahanan dan pembunuhannya dituangkan ke dalam film Llueve sobre Santiago (Hujan di Santiago) yang, di Chile sendiri, tak pernah ditayangkan.
Saat mengenangnya, 25 tahun kemudian, terkumpul 60.000 tanda tangan, menuntut agar Estadio Chile (stadion Chile—tempat Victor dibunuh) diganti namanya menjadi Stadion Victor Jara. Karena, pada tahun 1973, stadion tersebut, selain dijadikan tempat untuk menyiksa dan membunuh Victor, juga menjadi penjara bagi ribuan kaum kiri anggota Front Rakyat.
Latar Belakang Sosial
Victor lahir 23 September, 1938, di satu gubuk, di Lonquen, satu desa kabupaten dekat Santiago. Gubuknya di batas akhir perkebunan tuan tanah Ruiz Tagle, dan dijepit batas awal perkebunan tuan tanah Fernando Prieto, Lonquen adalah desa kecil kaum tani bertanah sempit, dan desa kecil bagi rumah-rumah buruh-tani yang bekerja pada segelintir tuan tanah, yang menghisap bukan saja tanah, binatang, tapi juga manusia.
Victor bersaudara Maria, Georgina dan Eduardo. Ia yang paling muda.
Isteri Victor, Joan, mengenang, “Victor anak buruh pembajak Chile, penyanyi rakyat Chile, artinya: benar-benar penyanyi rakyat sejati. Ibunya, Amanda, bisa bermain gitar, menyanyi sambil menari berputar-putar pada saat pesta panen dan pesta pemakaman—petani Chile justru berpesta saat seseorang meninggal. Keluarganya sangat miskin. Mereka hidup di tanah pertanian yang keji, perkebunan feodal. Sering mereka tak diupah sama sekali—saat dibayar, diterima lah sekantong terigu dan buah-buahan. Buah-buahan sekadarnya saja. Setiap keluarga tani atau buruh tani punya rumah yang, tepatnya, gubuk. Kenangan Victor yang paling awal: pagi buta digiring ke samping rumah, disuruh mencuci muka dan kaki dengan sebaskom air. Akh, ia harus mencari kayu bakar, menyalakan api, dan menjerang air untuk menyeduh dedaunan (yang dijadikan teh) sebagai pendamping sarapan. Sarapan baginya, benar-benar layaknya pesta!”
“Beberapa kenangan awalnya, aku pikir, bagi dia bukan lah suatu penderitaan. Ia selalu takzim pada ibunya, seorang yang mengagumkan, katanya—begitu penuh semangat hidup; pekerja keras; kepribadiannya membuat hidup begitu berharga; segala beban penderitaan bisa ia tanggung; itulah kekuatan buat keluarganya. Ibunya merupakan bagian penting dalam hidup Victor. Ibunya mengajarkannya bermain gitar dan menari; ia pula yang mengajarkan berbagai lagu tradisional rakyat Chile; hidup bersama ibunya memberikan banyak pengaruh pada gaya musiknya. Ibunya sangat percaya pada kekuatan pendidikan, didorongnya terus Victor melanjutkan sekolah.”
Ibu Victor memutuskan pindah ke Santiago, saat Maria tersiram sepanci air panas; luka lepuh yang diderita Maria tak bisa dirawat di desanya, harus di rumah sakit Santiago. Ibunya selalu mendapatkan jalan keluar untuk membesarkan anak-anaknya; kerja serabutan, dan akhirnya, berjualan makanan di pinggir jalan dekat pasar, di Santiago. Tapi, bapaknya malah meninggalkannya, pergi ke desa pegunungan.
Banyaknya, Manuel, tak memberikan kenangan yang menyenangkan bagi Victor. Manuel, sebagaimana buruh Chili lainnya, menjadi brutal karena pekerjaannya, karena ketidakadilan, karena kemiskinan, disingkirkan dan dihisap, hingga mencari pelarian (tak sejati) pada alkohol. Dalam salah satu lagunya Victor berkata: “Aku ingat raut wajah bapakku/bagai lubang di tembok/ bagai lumpur campur tai sapi/dan ibuku selalu bekerja.” Saat mabuk, bapaknya selalu memukuli Ibunya dan Victor. Saat ia berusia 6 atau 7 tahun, ia harus menemani bapaknya bekerja di perkebunan tuan tanah. Kadang-kadang ia menganggapnya sebagai pekerjaan luhur—sepanjang hari menuntun, menarik sapi, saat bapaknya menancapkan bajaknya ke tanah. Victor anak yang tekun belajar, begitu pun saat ia dipanggil ke luar kelas, hanya untuk mendengar berita: ibunya pingsan dan meninggal terkena serangan jantung ketika sedang melayani langganannya.
Victor praktis menjadi yatim piatu—saat ibunya meninggal, bapaknya tak mau datang ke Santiago untuk menolong dan meringankan bebannya. Sebagai remaja miskin, begitu dirundung kesedihan kematian ibunya, ia hidup bersama kawan-kawannya, jarang ke sekolah. Saat berumur 15 tahun, ia tinggalkan sekolah umum, masuk seminari di San Bernando, kota kecil di selatan Santiago—ia percaya bahwa pekerjaan sebagai pastor merupakan hal yang paling penting di dunia. Tahun 1952, setelah 2 tahun asyik kemasyuk dengan agama, ia keluar dari seminari, tanpa bisa menjadi pastor, dan malahan masuk ketentaraan. Tahun 1953 ia lulus dengan penghargaan, kembali ke desanya, Lonquen, tanpa pekerjaan atau masa depan, karenanya mulai mempelajari musik-musik rakyat bersama kawan-kawannya.
Pada tahun 1954 , atas bantuan kawan-kawannya, ia masuk Universitas Chile, belajar musik, teater, dan cerita-cerita rakyat, serta lulus tahun 1962. Di sini lah ia bertemu calon isterinya , Joan Turner, seorang dosen dari Inggris.
Di Universitas ini mulai lah kelihatan bakatnya sebagai sutradara, dan ia mulai menyutradarai beberapa program teater.
Kreativitas dan Perjuangan Politiknya
Victor, selain terlibat dalam berbagai produksi teater, juga mulai menyanyi dan mempelajari musik rakyat saat ia bertemu Violetta Parra. Violetta Parra, yang memiliki Cafe di Santiago, adalah artis dan penyanyi berbakat, sangat menghormati musik dan alat-alat musik tradisional Chile. Victor turut bantu-bantu di Cafe tersebut, dan mulai sering menyanyi. Saat itu lah, ia juga mulai terlibat dalam politik Chile. Pada tahun 1966, ia mulai membuat rekaman album solonya, judulnya “Victor Jara”. Tahun-tahun kemudian ia melanjutkan karirnya sebagai sutradara, mulai meluangkan banyak waktunya untuk bernyanyi dan aktivitas politik. Akhirnya, tahun 1970, ia meninggalkan kehidupan teater, lebih banyak meluangkan waktunya untuk rakyat Chile melalui lagu-lagunya.
Kecintaannya pada drama dan musik menghasilkan prestasi sebagai pemenang Festival Lagu Baru Chili, dengan lagu gubahannya Plegaria de un Labrador (Doa Seorang Buruh Tani). Ia juga adalah Direktur Teater Universitas Chile, tempat ia mengajar seni pentas sampai tahun 1967. Selain sukses dalam karir musiknya, Victor juga mengorganisir pementasa Viet-Rock, opera-rock tentang perang Vietnam. Dan kecintaannya terhadap seni kerakyatan justru melahirkan album yang berjudul “Rakyat” yang, oleh kritikus, digolongkan sebagai karya musik yang kompleks. Bahan-bahan untuk album tersebut dilandasi pada pengakuannya sendiri bahwa ia juga adalah penghuni perumahan Herminda de la Victoria—perumahan bagi para tunawisma—yang digusur.
Sisa hidupnya merupakan proses tak henti-hentinya berkreasi dan belajar, baik dalam musik maupun teater. Dibimbing oleh perasaan akan keadilan, ia bekerjasama erat dengan Partai Komunis Chili. Lagu-lagu dan karya teaternya mencerminkan kehidupan buruh dan tani Chili. Ia menggubah lagu-lagu-lagu yang begitu indah tentang pekerja, tentang pembuat tali rami, tentang penenun, tentang tukang cukur, tentang mereka yang membuat bajak, tentang buruh-buruh sederhana, yang membaktikan hidupnya bagi keadilan sosial. Lagu-lagu Victor penuh dengan pemikirannya tentang rakyat Chile. Ia sangat mencintai para pekerja keras di kota kecil dan pedesaan, dan banyak lagu-lagunya dihaturkan untuk menghormatinya. Juga, karena kecintaan yang sangat dalam pada rakyatnya, lagu-lagunya banyak menyerang ketidakadilan dalam masyarakat atau skandal politik di negerinya. Victor merupakan bagian penting dalam gerakan lagu-lagu Amerika Latin—apa yang disebut sebagai Nueva Cancion (Lagu Baru). Gerakan tersebut melibatkan banyak aktivis revolusioner Amerika Latin, dan semua artis Nueva Cancion memiliki kesamaan tujuan dan pemikiran. Akhirnya, gagasan-gagasan politik Victor merupakan bagian yang sangat penting dalam lagu-lagunya. Ia sangat percaya pada filsafat (jeneral) komunisme, layaknya banyak penyanyi progresif di Amerika Latin, karena menjanjikan hidup yang lebih baik bagi rakyatnya.
Begitu kental ketara cita-cita politiknya ia curahkan saat mendukung pencalonan Salvador Allende sebagai presiden Chile di tahun 1973. Victor sangat bergairah mendukung proses revolusioner tersebut. Hingga ia kemudian menjadi target kebencian kaum kanan, sebagaimana juga terhadap pekerja kebudayaan yang terlibat sepenuhnya dalam menyukseskan usaha revolusi. Allende menjuluki seniman-seniman tersebut “orang yang berperasaan bagai anggur merah dan roti harum-manis”.
Allende merupakan bagian dari Koalisi Rakyat Bersatu (sub-seksi Partai Komunis Chile) dan Victor, bersama-sama dengan penyanyi-penyanyi Chile lainnya, menyuguhkan konser untuk menghormati tujuan-tujuan politik Allende. Allende adalah calon presiden progresif yang sangat mencintai rakyat Chile. Koalisi Rakyat Bersatu punya rencanan untuk menambah jumlah sekolah, meningkatkan pendidikan, menambah jumlah perumahan, dan memberikan pengobatan/perawatan kesehatan gratis. Salah satu konser terbesar yang bertujuan mengkampanyekan program Allende tersebut adalah konser di Stadion Chile. Banyak artis terlibat mendukung program Allende tersebut. Pada akhirnya, kampanye Allende sukses luar biasa—tahun 1973, Doktor Salvador Allende, anggota Partai Sosialis Chile, menjadi presiden sosialis pertama yang dipilih di Amerika Latin. Allende terpilih menjadi presiden Chile, setelah memberikan beberapa kompromi dan manuver politik.
Namun demikian, banyak yang menentang kampanye pemilihan Allende. Pada tanggal 11 September, 1973, tentara, yang dipimpin oleh Laksamana Toribio dan Jenderal Angkatan Darat Augusto Pinochet, dengan dibantu pemerintah Amerika Serikat (CIA), melancarkan kudeta brutal. Ribuan pimpinan dan pendukung Koalisi Rakyat Bersatu dipenjarakan, ratusan ditembak mati. Allende “bunuh diri”, setelah berikrar, “Hanya kematian lah yang bisa memaksaku menyerahkan jabatan kepresidenanku”.
Akhirnya, tentara, dengan dibantu CIA mengambil-alih kekuasaan. Pada hari tragedi tersebut, Victor sedang mengajar di Universitas Teknik Negeri, yang dikurung tentara, yang sedang mencari Victor. Kemudian, tentara membawa Victor dan tahanan politik lainnya ke Stadion Chile, tempat ia menyelenggarakan konser untuk kampanye Allende. Victor dipenjara selama 5 hari yang penuh siksaan mengerikan. Selama hari-hari itu, ia dipaksa mendekam di penjara yang dingin dan kotor tanpa diberi makan dan minum. Tapi—menurut kesaksian kawan-kawannya sesama tahanan—ia selalu memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan tahanan lainnya. Di sana, tentara menyiksa dan membunuh banyak tahanan. Mereka meremukkan tangan Victor (banyak kesaksian yang menyatakan bahwa tangan Victor dipotong, tapi dalam buku Joan Jara, isterinya, saat ia melihat jenazahnya, tangannya remuk) hingga ia tak bisa memainkan gitar, namun ia tetap menyanyikan lagu-lagunya. Walau dalam siksaan yang mengerikan, ia tetap menyanyikan lagu perjuangan Koalisi Rakyat Bersatu yang sangat indah itu. Selesai menyanyikannya, ia menerima siksaan yang begitu berat, dan akhirnya ditembak di dagunya secara brutal oleh senapan mesin, gugur.
Setelah jenazahnya ditemukan, Joan Jara sempat menghaturkan pemakaman bagi suaminya secara layak. Setelah kudeta, karena banyak masalah politik, Joan dipaksa meninggalkannya negerinya dengan membawa rekaman rahasia Victor.
Bahkan, sampai sekarang, curahan lagu-lagu kemanusiaan dan politik Victor begitu dihormati di seluruh dunia, dan cita-cita Nueva Cancion serta musik politiknya secara umum tetap sangat berpengaruh kuat. Hidup Victor merupakan contoh indah penyanyi yang cerdik dan tulus, yang lantang diungkapkan dalam lagu-lagunya. Hasilnya, lagu-lagu Victor merupakan kesaksian atas kekuatan dan pandangan positif hidupnya. Victor, dari Chili, kawan yang besar, sederhana, penggubah indah, penyair rakyat, suami yang dicintai, musisi rakyat, lelaki mandiri, pahlawan rakyat, dibunuh secara pengecut oleh tentara Chili pada tanggal 15 September, 1973, di stadion Chile. Tangannya diremukkan. Hidupnya disiksa. Tapi kenangannya tetap hidup…selamanya.
Gerakan Kebudayaannya
“Tak Ada Revolusi Tanpa Lagu-lagu!” Itulah spanduk besar yang dipampangkan saat kampanye Salvador Allende, yang menunjukkan pengaruh bahwa gerakan Nueva Cancion sangat kuat tertanam dalam proses politik Chile. Lagu-lagu digunakan untuk mengungkapkan dukungan bagi Allende dan cita-cita politiknya. Nueva Cancion merupakan cerminan perasaan penyanyi dan penulisnya sebagai dedikasi bagi negerinya, dan memiliki pengaruh kuat pada musik Chile dan negeri-negeri Amerika Latin lainnya.
Budaya tradisional negeri Chile sangat penting pengaruhnya pada Nueva Cancion. Sebagai contoh, musik tradisional Victor mendapat pengaruh dari ibunya, dan terus berpengaruh dalam karya-karyanya selanjutnya. Dalam rasa hormatnya pada musik tradisional, ia juga menggunakan peralatan musik tradisional. Artis-artis Nueva Cancion sangat menghormati kaum tani dan buruh negeri tersebut—yang mereka anggap paling berjasa mewariskan, memelihara tradisi musik dan kebudayaan rakyat Chile.
Ungkapan-ungkapan Nueva Cancion mengabaikan hal-hal materialistik dan lebih memfokuskan diri pada perasaan dan pemikiran rakyat negeri Chile. Perubahan fokus tersebut bukan lah merupakan ekspresi pribadi, bagaiman pun juga—Nueva Cancion telah digunakan sebagai senjata politik untuk menyerang sistem pemerintahan. Ringkasnya, Nueva Cancion memiliki kepercayaan bahwa lagu-lagu bisa digunakan untuk mengatasi masalah negeri. Kekuatan Nueva Cancion datang dari kemampuannya untuk memulai dukungan bagi revolusi di Chile.
Seluruh artis Nueva Cancion memiliki beberapa kesamaan. Pertama, mereka memiliki kecintaan yang sangat besar terhadap orang-orang miskin, dan hormat pada kebudayaan, peralatan musik rakyat. Kedua, karya-karyanya bertujuan memperbaiki kondisi negeri agar lebih baik, khususnya buruh dan tani miskin. Menurut mereka, rakyat kecil tersebut tak memiliki pimpinan yang bisa mengungkapkan kebutuhannya, dan penyanyi serta penulis lagu Nueva Cancion wajib mengungkapkan suara mereka, menyalurkannya, hingga berhadapan langsung dengan pemerintah. Hasilnya, artis-artis Nueva Cancion banyak yang bisa mengatasi ketidakadilan di negeri Chile.
Sejarah Nueva Cancion sarat dengan kejadian-kejadian politik Amerika Latin. Sejak sebelum tahun 1950, AS telah mewanti-wanti pengaruhnya bagi negeri-negeri Amerika Tengah dan Selatan. Berkali-kali, AS memanipulasi peristiwa-peristiwa di negeri-negeri tersebut demi keuntungannya. Orang-orang berpendidikan dan tak berpendidikan di negeri-negeri tersebut merasakan pengaruh tersebut, dan berkali-kali artis-artis Nueva Cancion menggunakan pandangan rakyat tersebut sebagai tema-tema lagu-lagunya.
Tujuan politik Nueva Cancion sering bertentangan dengan pemerintah (yang dipengaruhi AS). Penghancuran imprealisme merupakan bagian penting dalam karya-karya Nueva Cancion. Nueva Cancion dimulai di Argentina, saat negeri ini berada di bawah kekuasaan rejim Peron. Di Argentina, Nueva Cancion digunakan untuk menghidupkan kembali lagu-lagu tradisional mereka. Jadi, fokus artis-artis Nueva Cancion adalah menemukan kembali dan mengajarkan musik tradisional Argentina. Saat gerakan Nueva Cancion meluas ke Chile, ia mulai mempengaruhi politik negeri tersebut. Violetta Parra lah yang paling berjasa dalam pembangunan awal gerakan Nueva Cancion di Chile. Dia bukan saja mahasiswi musik tradisional di Chili, tapi juga memiliki kepedulian pada problem-problem ketidakadilan dan kemiskinan di negerinya. Setelah berkenalan dengan Victor, ia banyak meluangkan waktu bersamanya.
Musik Victor dikembangkan berdasarkan suatu kombinasi antara pengalaman hidupnya dengan pengetahuan Violetta Parra. Sebagaimana bisa dilihat dari kehidupan Victor, musiknya memiliki dampak yang besar bagi negerinya. Kebesaran gerakan Nueva Cancion terlihat saat pemilihan Presiden Salvador Allende—anggota Koalisi Rakyat Bersatu, yang bergerak di bawah platform reformasi. Dengan kematian Victor, musik dan kekuatan Nueva Cancion justru bertambah berkembangan di Chile, walaupun banyak upaya pemerintah menindasnya. Musik Victor dan penyanyi-penyanyi lainnya dirampas dan dilarang disiarkan di radio, dan dua kelompok penting Nueva Cancion di Chili, Quilapayun dan Inti Illimani, diusir dari negerinya selama beberapa tahun. Tapi, sekarang, ide-ide Nueva Cancion telah kembali ke Chile. Pada tahun 1990, setelah tersingkirnya diktator penindas, diselenggarakan perayaan besar untuk menghormati Victor, dengan tema “Lagu Kebebasan”, menampilkan berbagai kelompok yang memainkan alat-alat tradisional dan mengungkapkan ide-ide Nueva Cancion.
Di samping karya-karya Victor di Chile, ide-ide Nueva Cancion juga dianggap penting di negeri-negeri lain. Contohnya, di Kuba, gerakan Nueva Cancion diacu sebagai Nueva Trova. Gerakan tersebut mendukung cita-cita revolusi Fidel Castro di Kuba. Penyanyi-penyanyi Kuba menggubah lagu tentang pemerintahan baru, pemerintahan masa depan, yang membantu meningkatkan semangat rakyat agar tetap tinggi, walaupun dalam keadaan sengsara setelah revolusi. Pablo Milenus dan Silvio Rodriguez adalah dua penyanyi/penggubah yang identik dengan Nueva Cancion-nya Kuba. Di negeri-negeri Amerika Tengah, Nueva Cancion malahan sering digunakan untuk tujuan yang bertentangan. Di negeri-negeri tersebut, Nueva Cancion sering digunakan sebagai alat yang sangat ampuh untuk menentang pemerintahan. Sebagai contoh, di Nicaragua dan El Salvador, para penyanyi menggubah lagu yang mendukung revolusi.
Walaupun terdapat berbagai ragam bentuk Nueva Cancion, tapi ia selalu merupakan cerminan kecintaan pada rakyat dan tradisi negeri. Kecintaan tersebut sering diungkapkan sebagai oposisi terhadap ketidakadilan dalam masyarakat dan dijadikan alat untuk mengakhirinya. Hidup dan karya Victor jelas menunjukkan karakter Nueva Cancion.
Sajak Terakhir Victor
Sajak-sajak tersebut ditulis di stadion Chili, tepatnya di bagian stadion tinju, tempat Victor disiksa dan akhirnya dibunuh. Serpihan kertasnya diselundupkan oleh mereka yang berhasil hidup. Tapi sajak bagi lagunya itu tak selesai, hanya setengahnya, karena ia kemudian dipindah ke ruangan lain stadion dan ditembak berkali-kali oleh senapan mesin di bagian dagunya.
Dalam salah satu baitnya, ia menulis: “Keheningan dan jeritan adalah akhir laguku.”;
“Mereka bisa membunuhnya, tapi mereka tak bisa membunuh lagunya”, menurut isterinya.
Lagu untuk Ibunya
Te recuerdo Amanda (Aku Ingat Kau, Amanda) adalah lagu untuk Ibunya. Saat Victor tahu bahwa anak perempuannya mengidap diabetes, ia menulis lagu cinta untuk ibunya, Amanda, dan anak perempuannya, Amanda. Lagu itu adalah salah satu lagu yang sangat ia sayangi, dan mengungkapkan pemikirannya tentang keluarga serta cinta. Dalam lagu itu, Victor menggambarkan kesedihan cinta antara ibunya, Amanda, dan bapaknya, Manuel (berbeda dengan di lagu lain, “Bulan itu Selalu Cantik”, yang menggambarkan kehidupan mereka yang lebih ceria). Namun demikian, lagu ini mengungkapkan gagasan Victor tentang cinta dalam bentuk indahnya tindakan Amanda—berjalan di tengah-tengah hujan untuk menemui suaminya, sederhana saja, karena ia mencintainya. Akhirnya, lagu ini punya kaitan erat antara ibunya, Amanda, dan anak perempuannya, Amanda, untuk menggambarkan gagasan Victor tentang keabadian hidup:
Aku ingat kau Amanda
saat jalanan basah,
lari ke pabrik
tempat Manuel kerja.
Dengan senyum renyah kau,
hujan di rambut kau
tak ada urusan lain,
kau hanya bergairah menemuinya.
Sekadar lima menit,
seluruh hidup kau
ada dalam lima menit
Sirene berbunyi
saatnya kembali kerja.
Dan saat kau berjalan
kau cerahkan segalanya
di lima menit itu
bagai memberi kau bunga.
Aku ingat kau Amanda
saat jalanan basah,
lari ke pabrik
tempat Manuel kerja.
Dengan senyum renyah kau
hujan di rambut kau
tak ada urusan lain,
kau hanya bergairah menemuinya.
Dan Manuel tak ada, malah meninggalkannya, ke gunung mencari nafkah
Tak ada rasa nyeri meninggalkannya
Ia malah ke gunung untuk bergelut
Dan dalam lima menit
semuanya sirna
Sirene berbunyi
saat kembali kerja
salah satunya Manuel
Aku ingat kau Amanda
saat jalanan basah,
lari ke pabrik
tempat Manuel kerja.
aku telah melihat peringatan kekejian terhadap Yahudi
kekalutan manusia akibat bom,
perang, yang mencabik-cabik kemanusiaan dan semua yang dilahirkannya.
Tapi aku juga telah melihat apa yang bisa dicapai oleh cinta,
apa yang bisa dilakukan oleh kekuatan seseorang yang bahagia.
Karenanya, dan karena, di atas segalanya, aku begitu bergairah akan perdamaian,
aku butuh kayu dan senar bagi gitarku,
agar aku bisa memaknai kesedihan dan kebahagiaan,
membasuhkan sajak bagi hati yang terbuka-lirih,
menggariskan arah yang bisa membantu kita semua takzim
serta sanggup melihat dunia dengan pandangan baru—Victor Jara
Victor Jara (baca: Viktor Hara), jelas memberi pengaruh yang sangat penting bagi musik dan kebudayaan Chile. Hidupnya merupakan cerminan negerinya, rakyatnya dan filsafat hidupnya.
Ia dipenjara pada tanggal 11 September, 1973. Di penjara, ia kukuh ingin bernyanyi, ia nyanyikan lagu Venceremos (Kita Pasti Menang)—lagu perjuangan Front Rakyat, yang dipimpin Salvador Allende—tentara geram, tak sudi mendengarkannya bernyanyi bersemangat dengan gitarnya, mereka meremukkan tangannya dengan popor senjata. Akhirnya, mereka bunuh Victor pada tanggal 16 September, 1973, saat berusia 40 tahun.
Jenazahnya tergeletak membusuk di pinggiran kota Santiago, Chile, saat ditemukan penghuni kampung kumuh yang mengenalinya, yang menyerahkannya ke pangkuan isterinya, seorang penari balet, Joan Jara,
Penahanan dan pembunuhannya dituangkan ke dalam film Llueve sobre Santiago (Hujan di Santiago) yang, di Chile sendiri, tak pernah ditayangkan.
Saat mengenangnya, 25 tahun kemudian, terkumpul 60.000 tanda tangan, menuntut agar Estadio Chile (stadion Chile—tempat Victor dibunuh) diganti namanya menjadi Stadion Victor Jara. Karena, pada tahun 1973, stadion tersebut, selain dijadikan tempat untuk menyiksa dan membunuh Victor, juga menjadi penjara bagi ribuan kaum kiri anggota Front Rakyat.
Latar Belakang Sosial
Victor lahir 23 September, 1938, di satu gubuk, di Lonquen, satu desa kabupaten dekat Santiago. Gubuknya di batas akhir perkebunan tuan tanah Ruiz Tagle, dan dijepit batas awal perkebunan tuan tanah Fernando Prieto, Lonquen adalah desa kecil kaum tani bertanah sempit, dan desa kecil bagi rumah-rumah buruh-tani yang bekerja pada segelintir tuan tanah, yang menghisap bukan saja tanah, binatang, tapi juga manusia.
Victor bersaudara Maria, Georgina dan Eduardo. Ia yang paling muda.
Isteri Victor, Joan, mengenang, “Victor anak buruh pembajak Chile, penyanyi rakyat Chile, artinya: benar-benar penyanyi rakyat sejati. Ibunya, Amanda, bisa bermain gitar, menyanyi sambil menari berputar-putar pada saat pesta panen dan pesta pemakaman—petani Chile justru berpesta saat seseorang meninggal. Keluarganya sangat miskin. Mereka hidup di tanah pertanian yang keji, perkebunan feodal. Sering mereka tak diupah sama sekali—saat dibayar, diterima lah sekantong terigu dan buah-buahan. Buah-buahan sekadarnya saja. Setiap keluarga tani atau buruh tani punya rumah yang, tepatnya, gubuk. Kenangan Victor yang paling awal: pagi buta digiring ke samping rumah, disuruh mencuci muka dan kaki dengan sebaskom air. Akh, ia harus mencari kayu bakar, menyalakan api, dan menjerang air untuk menyeduh dedaunan (yang dijadikan teh) sebagai pendamping sarapan. Sarapan baginya, benar-benar layaknya pesta!”
“Beberapa kenangan awalnya, aku pikir, bagi dia bukan lah suatu penderitaan. Ia selalu takzim pada ibunya, seorang yang mengagumkan, katanya—begitu penuh semangat hidup; pekerja keras; kepribadiannya membuat hidup begitu berharga; segala beban penderitaan bisa ia tanggung; itulah kekuatan buat keluarganya. Ibunya merupakan bagian penting dalam hidup Victor. Ibunya mengajarkannya bermain gitar dan menari; ia pula yang mengajarkan berbagai lagu tradisional rakyat Chile; hidup bersama ibunya memberikan banyak pengaruh pada gaya musiknya. Ibunya sangat percaya pada kekuatan pendidikan, didorongnya terus Victor melanjutkan sekolah.”
Ibu Victor memutuskan pindah ke Santiago, saat Maria tersiram sepanci air panas; luka lepuh yang diderita Maria tak bisa dirawat di desanya, harus di rumah sakit Santiago. Ibunya selalu mendapatkan jalan keluar untuk membesarkan anak-anaknya; kerja serabutan, dan akhirnya, berjualan makanan di pinggir jalan dekat pasar, di Santiago. Tapi, bapaknya malah meninggalkannya, pergi ke desa pegunungan.
Banyaknya, Manuel, tak memberikan kenangan yang menyenangkan bagi Victor. Manuel, sebagaimana buruh Chili lainnya, menjadi brutal karena pekerjaannya, karena ketidakadilan, karena kemiskinan, disingkirkan dan dihisap, hingga mencari pelarian (tak sejati) pada alkohol. Dalam salah satu lagunya Victor berkata: “Aku ingat raut wajah bapakku/bagai lubang di tembok/ bagai lumpur campur tai sapi/dan ibuku selalu bekerja.” Saat mabuk, bapaknya selalu memukuli Ibunya dan Victor. Saat ia berusia 6 atau 7 tahun, ia harus menemani bapaknya bekerja di perkebunan tuan tanah. Kadang-kadang ia menganggapnya sebagai pekerjaan luhur—sepanjang hari menuntun, menarik sapi, saat bapaknya menancapkan bajaknya ke tanah. Victor anak yang tekun belajar, begitu pun saat ia dipanggil ke luar kelas, hanya untuk mendengar berita: ibunya pingsan dan meninggal terkena serangan jantung ketika sedang melayani langganannya.
Victor praktis menjadi yatim piatu—saat ibunya meninggal, bapaknya tak mau datang ke Santiago untuk menolong dan meringankan bebannya. Sebagai remaja miskin, begitu dirundung kesedihan kematian ibunya, ia hidup bersama kawan-kawannya, jarang ke sekolah. Saat berumur 15 tahun, ia tinggalkan sekolah umum, masuk seminari di San Bernando, kota kecil di selatan Santiago—ia percaya bahwa pekerjaan sebagai pastor merupakan hal yang paling penting di dunia. Tahun 1952, setelah 2 tahun asyik kemasyuk dengan agama, ia keluar dari seminari, tanpa bisa menjadi pastor, dan malahan masuk ketentaraan. Tahun 1953 ia lulus dengan penghargaan, kembali ke desanya, Lonquen, tanpa pekerjaan atau masa depan, karenanya mulai mempelajari musik-musik rakyat bersama kawan-kawannya.
Pada tahun 1954 , atas bantuan kawan-kawannya, ia masuk Universitas Chile, belajar musik, teater, dan cerita-cerita rakyat, serta lulus tahun 1962. Di sini lah ia bertemu calon isterinya , Joan Turner, seorang dosen dari Inggris.
Di Universitas ini mulai lah kelihatan bakatnya sebagai sutradara, dan ia mulai menyutradarai beberapa program teater.
Kreativitas dan Perjuangan Politiknya
Victor, selain terlibat dalam berbagai produksi teater, juga mulai menyanyi dan mempelajari musik rakyat saat ia bertemu Violetta Parra. Violetta Parra, yang memiliki Cafe di Santiago, adalah artis dan penyanyi berbakat, sangat menghormati musik dan alat-alat musik tradisional Chile. Victor turut bantu-bantu di Cafe tersebut, dan mulai sering menyanyi. Saat itu lah, ia juga mulai terlibat dalam politik Chile. Pada tahun 1966, ia mulai membuat rekaman album solonya, judulnya “Victor Jara”. Tahun-tahun kemudian ia melanjutkan karirnya sebagai sutradara, mulai meluangkan banyak waktunya untuk bernyanyi dan aktivitas politik. Akhirnya, tahun 1970, ia meninggalkan kehidupan teater, lebih banyak meluangkan waktunya untuk rakyat Chile melalui lagu-lagunya.
Kecintaannya pada drama dan musik menghasilkan prestasi sebagai pemenang Festival Lagu Baru Chili, dengan lagu gubahannya Plegaria de un Labrador (Doa Seorang Buruh Tani). Ia juga adalah Direktur Teater Universitas Chile, tempat ia mengajar seni pentas sampai tahun 1967. Selain sukses dalam karir musiknya, Victor juga mengorganisir pementasa Viet-Rock, opera-rock tentang perang Vietnam. Dan kecintaannya terhadap seni kerakyatan justru melahirkan album yang berjudul “Rakyat” yang, oleh kritikus, digolongkan sebagai karya musik yang kompleks. Bahan-bahan untuk album tersebut dilandasi pada pengakuannya sendiri bahwa ia juga adalah penghuni perumahan Herminda de la Victoria—perumahan bagi para tunawisma—yang digusur.
Sisa hidupnya merupakan proses tak henti-hentinya berkreasi dan belajar, baik dalam musik maupun teater. Dibimbing oleh perasaan akan keadilan, ia bekerjasama erat dengan Partai Komunis Chili. Lagu-lagu dan karya teaternya mencerminkan kehidupan buruh dan tani Chili. Ia menggubah lagu-lagu-lagu yang begitu indah tentang pekerja, tentang pembuat tali rami, tentang penenun, tentang tukang cukur, tentang mereka yang membuat bajak, tentang buruh-buruh sederhana, yang membaktikan hidupnya bagi keadilan sosial. Lagu-lagu Victor penuh dengan pemikirannya tentang rakyat Chile. Ia sangat mencintai para pekerja keras di kota kecil dan pedesaan, dan banyak lagu-lagunya dihaturkan untuk menghormatinya. Juga, karena kecintaan yang sangat dalam pada rakyatnya, lagu-lagunya banyak menyerang ketidakadilan dalam masyarakat atau skandal politik di negerinya. Victor merupakan bagian penting dalam gerakan lagu-lagu Amerika Latin—apa yang disebut sebagai Nueva Cancion (Lagu Baru). Gerakan tersebut melibatkan banyak aktivis revolusioner Amerika Latin, dan semua artis Nueva Cancion memiliki kesamaan tujuan dan pemikiran. Akhirnya, gagasan-gagasan politik Victor merupakan bagian yang sangat penting dalam lagu-lagunya. Ia sangat percaya pada filsafat (jeneral) komunisme, layaknya banyak penyanyi progresif di Amerika Latin, karena menjanjikan hidup yang lebih baik bagi rakyatnya.
Begitu kental ketara cita-cita politiknya ia curahkan saat mendukung pencalonan Salvador Allende sebagai presiden Chile di tahun 1973. Victor sangat bergairah mendukung proses revolusioner tersebut. Hingga ia kemudian menjadi target kebencian kaum kanan, sebagaimana juga terhadap pekerja kebudayaan yang terlibat sepenuhnya dalam menyukseskan usaha revolusi. Allende menjuluki seniman-seniman tersebut “orang yang berperasaan bagai anggur merah dan roti harum-manis”.
Allende merupakan bagian dari Koalisi Rakyat Bersatu (sub-seksi Partai Komunis Chile) dan Victor, bersama-sama dengan penyanyi-penyanyi Chile lainnya, menyuguhkan konser untuk menghormati tujuan-tujuan politik Allende. Allende adalah calon presiden progresif yang sangat mencintai rakyat Chile. Koalisi Rakyat Bersatu punya rencanan untuk menambah jumlah sekolah, meningkatkan pendidikan, menambah jumlah perumahan, dan memberikan pengobatan/perawatan kesehatan gratis. Salah satu konser terbesar yang bertujuan mengkampanyekan program Allende tersebut adalah konser di Stadion Chile. Banyak artis terlibat mendukung program Allende tersebut. Pada akhirnya, kampanye Allende sukses luar biasa—tahun 1973, Doktor Salvador Allende, anggota Partai Sosialis Chile, menjadi presiden sosialis pertama yang dipilih di Amerika Latin. Allende terpilih menjadi presiden Chile, setelah memberikan beberapa kompromi dan manuver politik.
Namun demikian, banyak yang menentang kampanye pemilihan Allende. Pada tanggal 11 September, 1973, tentara, yang dipimpin oleh Laksamana Toribio dan Jenderal Angkatan Darat Augusto Pinochet, dengan dibantu pemerintah Amerika Serikat (CIA), melancarkan kudeta brutal. Ribuan pimpinan dan pendukung Koalisi Rakyat Bersatu dipenjarakan, ratusan ditembak mati. Allende “bunuh diri”, setelah berikrar, “Hanya kematian lah yang bisa memaksaku menyerahkan jabatan kepresidenanku”.
Akhirnya, tentara, dengan dibantu CIA mengambil-alih kekuasaan. Pada hari tragedi tersebut, Victor sedang mengajar di Universitas Teknik Negeri, yang dikurung tentara, yang sedang mencari Victor. Kemudian, tentara membawa Victor dan tahanan politik lainnya ke Stadion Chile, tempat ia menyelenggarakan konser untuk kampanye Allende. Victor dipenjara selama 5 hari yang penuh siksaan mengerikan. Selama hari-hari itu, ia dipaksa mendekam di penjara yang dingin dan kotor tanpa diberi makan dan minum. Tapi—menurut kesaksian kawan-kawannya sesama tahanan—ia selalu memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan tahanan lainnya. Di sana, tentara menyiksa dan membunuh banyak tahanan. Mereka meremukkan tangan Victor (banyak kesaksian yang menyatakan bahwa tangan Victor dipotong, tapi dalam buku Joan Jara, isterinya, saat ia melihat jenazahnya, tangannya remuk) hingga ia tak bisa memainkan gitar, namun ia tetap menyanyikan lagu-lagunya. Walau dalam siksaan yang mengerikan, ia tetap menyanyikan lagu perjuangan Koalisi Rakyat Bersatu yang sangat indah itu. Selesai menyanyikannya, ia menerima siksaan yang begitu berat, dan akhirnya ditembak di dagunya secara brutal oleh senapan mesin, gugur.
Setelah jenazahnya ditemukan, Joan Jara sempat menghaturkan pemakaman bagi suaminya secara layak. Setelah kudeta, karena banyak masalah politik, Joan dipaksa meninggalkannya negerinya dengan membawa rekaman rahasia Victor.
Bahkan, sampai sekarang, curahan lagu-lagu kemanusiaan dan politik Victor begitu dihormati di seluruh dunia, dan cita-cita Nueva Cancion serta musik politiknya secara umum tetap sangat berpengaruh kuat. Hidup Victor merupakan contoh indah penyanyi yang cerdik dan tulus, yang lantang diungkapkan dalam lagu-lagunya. Hasilnya, lagu-lagu Victor merupakan kesaksian atas kekuatan dan pandangan positif hidupnya. Victor, dari Chili, kawan yang besar, sederhana, penggubah indah, penyair rakyat, suami yang dicintai, musisi rakyat, lelaki mandiri, pahlawan rakyat, dibunuh secara pengecut oleh tentara Chili pada tanggal 15 September, 1973, di stadion Chile. Tangannya diremukkan. Hidupnya disiksa. Tapi kenangannya tetap hidup…selamanya.
Gerakan Kebudayaannya
“Tak Ada Revolusi Tanpa Lagu-lagu!” Itulah spanduk besar yang dipampangkan saat kampanye Salvador Allende, yang menunjukkan pengaruh bahwa gerakan Nueva Cancion sangat kuat tertanam dalam proses politik Chile. Lagu-lagu digunakan untuk mengungkapkan dukungan bagi Allende dan cita-cita politiknya. Nueva Cancion merupakan cerminan perasaan penyanyi dan penulisnya sebagai dedikasi bagi negerinya, dan memiliki pengaruh kuat pada musik Chile dan negeri-negeri Amerika Latin lainnya.
Budaya tradisional negeri Chile sangat penting pengaruhnya pada Nueva Cancion. Sebagai contoh, musik tradisional Victor mendapat pengaruh dari ibunya, dan terus berpengaruh dalam karya-karyanya selanjutnya. Dalam rasa hormatnya pada musik tradisional, ia juga menggunakan peralatan musik tradisional. Artis-artis Nueva Cancion sangat menghormati kaum tani dan buruh negeri tersebut—yang mereka anggap paling berjasa mewariskan, memelihara tradisi musik dan kebudayaan rakyat Chile.
Ungkapan-ungkapan Nueva Cancion mengabaikan hal-hal materialistik dan lebih memfokuskan diri pada perasaan dan pemikiran rakyat negeri Chile. Perubahan fokus tersebut bukan lah merupakan ekspresi pribadi, bagaiman pun juga—Nueva Cancion telah digunakan sebagai senjata politik untuk menyerang sistem pemerintahan. Ringkasnya, Nueva Cancion memiliki kepercayaan bahwa lagu-lagu bisa digunakan untuk mengatasi masalah negeri. Kekuatan Nueva Cancion datang dari kemampuannya untuk memulai dukungan bagi revolusi di Chile.
Seluruh artis Nueva Cancion memiliki beberapa kesamaan. Pertama, mereka memiliki kecintaan yang sangat besar terhadap orang-orang miskin, dan hormat pada kebudayaan, peralatan musik rakyat. Kedua, karya-karyanya bertujuan memperbaiki kondisi negeri agar lebih baik, khususnya buruh dan tani miskin. Menurut mereka, rakyat kecil tersebut tak memiliki pimpinan yang bisa mengungkapkan kebutuhannya, dan penyanyi serta penulis lagu Nueva Cancion wajib mengungkapkan suara mereka, menyalurkannya, hingga berhadapan langsung dengan pemerintah. Hasilnya, artis-artis Nueva Cancion banyak yang bisa mengatasi ketidakadilan di negeri Chile.
Sejarah Nueva Cancion sarat dengan kejadian-kejadian politik Amerika Latin. Sejak sebelum tahun 1950, AS telah mewanti-wanti pengaruhnya bagi negeri-negeri Amerika Tengah dan Selatan. Berkali-kali, AS memanipulasi peristiwa-peristiwa di negeri-negeri tersebut demi keuntungannya. Orang-orang berpendidikan dan tak berpendidikan di negeri-negeri tersebut merasakan pengaruh tersebut, dan berkali-kali artis-artis Nueva Cancion menggunakan pandangan rakyat tersebut sebagai tema-tema lagu-lagunya.
Tujuan politik Nueva Cancion sering bertentangan dengan pemerintah (yang dipengaruhi AS). Penghancuran imprealisme merupakan bagian penting dalam karya-karya Nueva Cancion. Nueva Cancion dimulai di Argentina, saat negeri ini berada di bawah kekuasaan rejim Peron. Di Argentina, Nueva Cancion digunakan untuk menghidupkan kembali lagu-lagu tradisional mereka. Jadi, fokus artis-artis Nueva Cancion adalah menemukan kembali dan mengajarkan musik tradisional Argentina. Saat gerakan Nueva Cancion meluas ke Chile, ia mulai mempengaruhi politik negeri tersebut. Violetta Parra lah yang paling berjasa dalam pembangunan awal gerakan Nueva Cancion di Chile. Dia bukan saja mahasiswi musik tradisional di Chili, tapi juga memiliki kepedulian pada problem-problem ketidakadilan dan kemiskinan di negerinya. Setelah berkenalan dengan Victor, ia banyak meluangkan waktu bersamanya.
Musik Victor dikembangkan berdasarkan suatu kombinasi antara pengalaman hidupnya dengan pengetahuan Violetta Parra. Sebagaimana bisa dilihat dari kehidupan Victor, musiknya memiliki dampak yang besar bagi negerinya. Kebesaran gerakan Nueva Cancion terlihat saat pemilihan Presiden Salvador Allende—anggota Koalisi Rakyat Bersatu, yang bergerak di bawah platform reformasi. Dengan kematian Victor, musik dan kekuatan Nueva Cancion justru bertambah berkembangan di Chile, walaupun banyak upaya pemerintah menindasnya. Musik Victor dan penyanyi-penyanyi lainnya dirampas dan dilarang disiarkan di radio, dan dua kelompok penting Nueva Cancion di Chili, Quilapayun dan Inti Illimani, diusir dari negerinya selama beberapa tahun. Tapi, sekarang, ide-ide Nueva Cancion telah kembali ke Chile. Pada tahun 1990, setelah tersingkirnya diktator penindas, diselenggarakan perayaan besar untuk menghormati Victor, dengan tema “Lagu Kebebasan”, menampilkan berbagai kelompok yang memainkan alat-alat tradisional dan mengungkapkan ide-ide Nueva Cancion.
Di samping karya-karya Victor di Chile, ide-ide Nueva Cancion juga dianggap penting di negeri-negeri lain. Contohnya, di Kuba, gerakan Nueva Cancion diacu sebagai Nueva Trova. Gerakan tersebut mendukung cita-cita revolusi Fidel Castro di Kuba. Penyanyi-penyanyi Kuba menggubah lagu tentang pemerintahan baru, pemerintahan masa depan, yang membantu meningkatkan semangat rakyat agar tetap tinggi, walaupun dalam keadaan sengsara setelah revolusi. Pablo Milenus dan Silvio Rodriguez adalah dua penyanyi/penggubah yang identik dengan Nueva Cancion-nya Kuba. Di negeri-negeri Amerika Tengah, Nueva Cancion malahan sering digunakan untuk tujuan yang bertentangan. Di negeri-negeri tersebut, Nueva Cancion sering digunakan sebagai alat yang sangat ampuh untuk menentang pemerintahan. Sebagai contoh, di Nicaragua dan El Salvador, para penyanyi menggubah lagu yang mendukung revolusi.
Walaupun terdapat berbagai ragam bentuk Nueva Cancion, tapi ia selalu merupakan cerminan kecintaan pada rakyat dan tradisi negeri. Kecintaan tersebut sering diungkapkan sebagai oposisi terhadap ketidakadilan dalam masyarakat dan dijadikan alat untuk mengakhirinya. Hidup dan karya Victor jelas menunjukkan karakter Nueva Cancion.
Sajak Terakhir Victor
Sajak-sajak tersebut ditulis di stadion Chili, tepatnya di bagian stadion tinju, tempat Victor disiksa dan akhirnya dibunuh. Serpihan kertasnya diselundupkan oleh mereka yang berhasil hidup. Tapi sajak bagi lagunya itu tak selesai, hanya setengahnya, karena ia kemudian dipindah ke ruangan lain stadion dan ditembak berkali-kali oleh senapan mesin di bagian dagunya.
Dalam salah satu baitnya, ia menulis: “Keheningan dan jeritan adalah akhir laguku.”;
“Mereka bisa membunuhnya, tapi mereka tak bisa membunuh lagunya”, menurut isterinya.
Lagu untuk Ibunya
Te recuerdo Amanda (Aku Ingat Kau, Amanda) adalah lagu untuk Ibunya. Saat Victor tahu bahwa anak perempuannya mengidap diabetes, ia menulis lagu cinta untuk ibunya, Amanda, dan anak perempuannya, Amanda. Lagu itu adalah salah satu lagu yang sangat ia sayangi, dan mengungkapkan pemikirannya tentang keluarga serta cinta. Dalam lagu itu, Victor menggambarkan kesedihan cinta antara ibunya, Amanda, dan bapaknya, Manuel (berbeda dengan di lagu lain, “Bulan itu Selalu Cantik”, yang menggambarkan kehidupan mereka yang lebih ceria). Namun demikian, lagu ini mengungkapkan gagasan Victor tentang cinta dalam bentuk indahnya tindakan Amanda—berjalan di tengah-tengah hujan untuk menemui suaminya, sederhana saja, karena ia mencintainya. Akhirnya, lagu ini punya kaitan erat antara ibunya, Amanda, dan anak perempuannya, Amanda, untuk menggambarkan gagasan Victor tentang keabadian hidup:
Aku ingat kau Amanda
saat jalanan basah,
lari ke pabrik
tempat Manuel kerja.
Dengan senyum renyah kau,
hujan di rambut kau
tak ada urusan lain,
kau hanya bergairah menemuinya.
Sekadar lima menit,
seluruh hidup kau
ada dalam lima menit
Sirene berbunyi
saatnya kembali kerja.
Dan saat kau berjalan
kau cerahkan segalanya
di lima menit itu
bagai memberi kau bunga.
Aku ingat kau Amanda
saat jalanan basah,
lari ke pabrik
tempat Manuel kerja.
Dengan senyum renyah kau
hujan di rambut kau
tak ada urusan lain,
kau hanya bergairah menemuinya.
Dan Manuel tak ada, malah meninggalkannya, ke gunung mencari nafkah
Tak ada rasa nyeri meninggalkannya
Ia malah ke gunung untuk bergelut
Dan dalam lima menit
semuanya sirna
Sirene berbunyi
saat kembali kerja
salah satunya Manuel
Aku ingat kau Amanda
saat jalanan basah,
lari ke pabrik
tempat Manuel kerja.
Ekspresi
Oleh : Saddam Cahyo*
Tahun 2013 ini, genap tercapai usia ke-50 kalau memang fisiknya masih hidup, tapi sayangnya sampai sekarang kita tidak bisa mengetahui kabar tentang keberadaannya. Bahkan istri dan kedua anaknya pun masih dihantui rasa penasaran yang tak kunjung terjawab. Widji Widodo atau lebih populer dengan nama Wiji Thukul lahir di kampung Sorogenen, Solo, Jawa Tengah pada 26 Agustus 1963 dengan latar belakang keluarga kurang mampu. Namun kondisi itu justru menempanya bukan menjadi manusia yang lemah, menurut orang-orang yang pernah berkenalan langsung dengannya, Thukul adalah pribadi yang sederhana tapi penuh percaya diri, berprinsip, bersemangat tinggi dan sangat cerdas, meski hanya lulusan SMP.
Wiji Thukul adalah seorang seniman cum aktivis yang turut dihilangkan secara paksa oleh rezim Orde Baru Soeharto karena aktifitas seni kerakyatannya dianggap provokatif, subversif dan mengancam stabilitas negara. Sejak masa remaja ia sudah aktif menggeluti dunia seni teater dan sastra. Karya-karya ciptaannya terkesan nyeleneh, karena tidak membicarakan keindahan, justru cenderung penuh dengan nada-nada protes akan kenyataan hidup kaum pinggiran yang begitu sulit dijalani. Berbeda dari kebanyakan seniman di masanya yang alergi pada politik, Wiji Thukul dengan tegas melibatkan diri dalam aktivitas politik pergerakan dan menentang keras rezim militeristik Orba yang telah menciptakan keterpurukan Bangsa dengan menghamba pada kepentingan imperium modal asing.
Wiji Thukul kini telah menjadi salah satu legenda dalam sejarah politik pergerakan di Indonesia. “Hanya Ada Satu Kata : Lawan !” merupakan penggalan larik salah satu puisinya yang berjudul “Peringatan” telah menjelma ibarat kredo magis yang mampu membakar semangat bagi kaum aktivis pergerakan rakyat. Hingga sekarang, Ide dan cita-citanya masih terus hidup disuarakan lewat mulut-mulut manusia yang kian banyak membacai sajak-sajak miliknya. Bahkan sketsa gambar wajahnya pun telah menjadi simbol perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan para penguasa yang menyengsarakan rakyatnya.
Dalam surat puisi yang dibuat untuk ulang tahun ke-90 Sosiolog ternama Belanda yang punya perhatian besar bagi emansipasi rakyat Indonesia, WF Wertheim pada November 1997, Wiji Thukul menegaskan posisinya dengan berkata ;
Tahun 2013 ini, genap tercapai usia ke-50 kalau memang fisiknya masih hidup, tapi sayangnya sampai sekarang kita tidak bisa mengetahui kabar tentang keberadaannya. Bahkan istri dan kedua anaknya pun masih dihantui rasa penasaran yang tak kunjung terjawab. Widji Widodo atau lebih populer dengan nama Wiji Thukul lahir di kampung Sorogenen, Solo, Jawa Tengah pada 26 Agustus 1963 dengan latar belakang keluarga kurang mampu. Namun kondisi itu justru menempanya bukan menjadi manusia yang lemah, menurut orang-orang yang pernah berkenalan langsung dengannya, Thukul adalah pribadi yang sederhana tapi penuh percaya diri, berprinsip, bersemangat tinggi dan sangat cerdas, meski hanya lulusan SMP.
Wiji Thukul adalah seorang seniman cum aktivis yang turut dihilangkan secara paksa oleh rezim Orde Baru Soeharto karena aktifitas seni kerakyatannya dianggap provokatif, subversif dan mengancam stabilitas negara. Sejak masa remaja ia sudah aktif menggeluti dunia seni teater dan sastra. Karya-karya ciptaannya terkesan nyeleneh, karena tidak membicarakan keindahan, justru cenderung penuh dengan nada-nada protes akan kenyataan hidup kaum pinggiran yang begitu sulit dijalani. Berbeda dari kebanyakan seniman di masanya yang alergi pada politik, Wiji Thukul dengan tegas melibatkan diri dalam aktivitas politik pergerakan dan menentang keras rezim militeristik Orba yang telah menciptakan keterpurukan Bangsa dengan menghamba pada kepentingan imperium modal asing.
Wiji Thukul kini telah menjadi salah satu legenda dalam sejarah politik pergerakan di Indonesia. “Hanya Ada Satu Kata : Lawan !” merupakan penggalan larik salah satu puisinya yang berjudul “Peringatan” telah menjelma ibarat kredo magis yang mampu membakar semangat bagi kaum aktivis pergerakan rakyat. Hingga sekarang, Ide dan cita-citanya masih terus hidup disuarakan lewat mulut-mulut manusia yang kian banyak membacai sajak-sajak miliknya. Bahkan sketsa gambar wajahnya pun telah menjadi simbol perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan para penguasa yang menyengsarakan rakyatnya.
Dalam surat puisi yang dibuat untuk ulang tahun ke-90 Sosiolog ternama Belanda yang punya perhatian besar bagi emansipasi rakyat Indonesia, WF Wertheim pada November 1997, Wiji Thukul menegaskan posisinya dengan berkata ;
Waktu mataku ditendang tentara dalam pemogokan buruh, dalam hati aku bilang mereka lebih ganas dari serigala.. Waktu aku jadi buronan politik karena bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik, namaku diumumkan di Koran, rumahku digrebek, biniku diteror.. diinterogasi..diintimidasi, anakku 4 tahun melihatnya!, masihkah kau membutuhkan perumpamaan untuk mengatakan : AKU TIDAK MERDEKA.
Spiral Kekerasan
Fenomena dihilangkannya Wiji Thukul beserta pahlawan reformasi lainnya, barangkali bisa terjelaskan melalui teori spiral kekerasan, dimana kekerasan akan terus melahirkan kekerasan lainnya yang dicetuskan oleh tokoh kemanusiaan Dom Helder Camara (Resist Book, 2005). Ia menerangkan bahwa dalam peradaban manusia selama ini, persoalan terbesar yang selalu memicu konflik adalah ketidakadilan dalam berbagai bentuk dan tingkatannya. Di negara dunia ketiga seperti Indonesia, ketidakadilan yang paling nyata dan mempengaruhi jutaan manusia adalah rendahnya taraf hidup yang tergolong dalam kondisi sub-human. Kondisi ini tidak lain adalah kemiskinan struktural, yang punya kemampuan membunuh massal sama efektifnya dengan perang, bahkan lebih dari itu kemiskinan menyebabkan kerusakan fisik, psikologis, dan moral yang sangat akut dan berkepanjangan.
Fenomena ketidakadilan seperti inilah yang menurut Camara merupakan bentuk kekerasan paling utama dan mendasar. Kekerasan ini semakin terpelihara dan dimapankan oleh sistem hidup kapitalisme yang memberi privillage atau hak istimewa kepada segelintir golongan saja, sementara mayoritas orang akan bertahan hidup hanya jika mereka bekerja sekeras mungkin. Dalam proses berikutnya, situasi ini kian memburuk dan akan menciptakan kekerasan yang berikutnya yakni pemberontakan.
Pemberontakan nyaris selalu menjadi keniscayaan yang tercipta atas dasar ledakan harapan memenangkan masa depan dunia yang lebih adil dan manusiawi. Pemberontakan paling potensial dilakukan oleh kaum tertindas itu sendiri karena mereka yang paling merasakan sakitnya, namun jika rakyat sudah jatuh dalam fatalisme karena putus harapan setelah coba berjuang, maka kaum muda lah yang akan bangkit membuat pemberontakan. Kaum muda adalah kekuatan dari idealisme yang lapar akan keadilan dan haus akan otentisitas, mereka cenderung mengadopsi ideologi-ideologi radikal dan berani melakukan protes keras.
Ketika konflik meletus dan semakin meluas sampai ke jalan-jalan, para penguasa akan menganggap dirinya wajib menjaga dan memulihkan ketertiban umum. Sayangnya upaya mereka justru menciptakan kekerasan berikutnya, yakni represi penguasa. Logika kekerasan yang dianut pemerintah selalu merenggut korban yang tidak sedikit dan memilukan. Begitulah yang terjadi di Indonesia saat itu, dimana rasa penat rakyat tertindas berpadu dengan keresahan kaum muda telah menjelma menjadi sebuah pemberontakan terhadap penguasa lalim yang berdarah dingin, hingga akhirnya dobrakan reformasi negeri harus dibayar mahal dengan dihilangkannya Wiji Thukul serta pahlawan lainnya.
Melanjutkan Perjuangan
Tentu saya tak bermaksud mengajak kita menerima begitu saja keadaan ini, justru saya mencoba mengajak kita semua untuk tidak sekedar rutin mengenang mereka yang tewas atau hilang sebagai martir perubahan. Lebih jauh, saya begitu mengagumi, terinspirasi dan berharap lebih dari semua perjuangan penuh pengorbanan ini, tapi saya yang berasal dari generasi pasca reformasi 98, tentu punya jarak cukup jauh untuk mengetahui persis situasi heroik masa itu, hingga menjadi sulit untuk memiliki perasaan duka yang begitu dalam dan nyata atas kehilangan kawan seperjuangan seperti para pahlawan tersebut.
Dalam hal ini saya bermaksud mengapresiasi sekaligus menanggapi berbagai upaya serius dari banyak kalangan yang semakin berani terbuka menyatakan solidaritasnya menolak lupa pada sejarah kelam negeri dan menuntut pertanggungjawaban penguasa. Harus diakui bahwa kita yang peduli dengan persoalan ini tak boleh menyerah dan berhenti berjuang, mengingat penguasa masih bergeming dan masyarakat pun semakin lupa tak acuh. Belakangan semakin banyak dan mudah kita temui karya intelektual berupa buku maupun film dokumenter yang mengusung tema ini, khususnya kisah Wiji Thukul sebagai zoom in utama dalam menyoroti persoalan sejarah yang lebih luas dan kompleks.
Yang terbaru di tahun ini adalah liputan khusus majalah TEMPO edisi Mei 2013 yang sudah dibukukan oleh penerbit KPG dengan judul “WIJI THUKUL ; Teka Teki Orang Hilang”, bahkan juga sudah disiarkan berupa film drama dokumenter di channel TV One. Hanya saja, saya sedikit kecewa karena menangkap ada pergeseran semangat dalam berbagai upaya cemerlang pemberitaan Wiji Thukul yang tak pernah pulang ini. Sebagai penerima informasi, saya merasa semuanya ini seolah hanya bicara soal empati kemanusiaan (HAM) an sich, dan telah mencerabut substansinya, yakni perlawanan pada kesewenangan kekuasaan.
Bahkan dengan agak curiga, saya merasa telah terjadi penyelewengan makna dimana ada kepentingan media industrial sebagai pemilik hak siar untuk menggiring persepsi publik ke efek jera, bahwa fenomena sejarah pergerakan politik kaum tertindas sebagaimana yang Wiji Thukul lakukan ini adalah sebuah kesalahan besar yang patut disesalkan karena hanya akan melahirkan kesia-siaan bahkan kerugian yang tak ternilai harganya. Sedangkan bagi saya, ada tujuan lain yang sama urgensinya dengan tujuan mengingatkan sejarah kepada masyarakat, menuntut pertanggungjawaban negara, mendukung keluarga korban, dan menghormati serta mengenang mereka yang tewas dan hilang.
Tujuan lain yang seharusnya tersampaikan itu adalah agar kita sadar betul bahwa cita-cita mereka belum sepenuhnya tercapai, dan perjuangan mereka pun harus terus kita lanjutkan hingga tuntas terwujud. Barangkali itu pula yang menjadi harapan dari Wiji Thukul terhadap kita semua, sebab dari karya puisi-puisinya selama menjadi pelarian buronan penguasa sejak akhir tahun 1996, tersirat bahwa ia sadar penuh akan setiap ancaman dan konsekuensi dari perjuangannya menentang arus deras kesewenangan dan ketidakadilan. Seperti dalam puisi berjudul “Habis Cemasku” ia menulis ;
Habis cemasku kau gilas, habis takutku kau tindas, kini padaku tinggal tenaga mendidih ! segala telah kau rampas, kau paksa aku tetap bodoh, miskin dan nelan ampas, kini padaku tinggal tenaga mengepal-ngepal di jalan-jalan… aku masih tetap waras !
Sementara dalam puisinya berjudul “Ketika Datang Malam” ia menulis ;
Aku rakyatmu, hidup di delapan penjuru, kau tak bisa menangkapku, karena kau tak mengenalku, kau tak bisa mendengarkanku karena ka uterus berbicara.. dengan mulut senapan.. kau tak bisa menguburkanku, kau tak bisa menyembuhkan lukaku, karena ka uterus berbicara, dengan tembakan dan ancaman, dan penjara.
Bahkan dalam puisinya yang dibuat pada 18 Juni 1997 ia menulis ;
Puisiku bukan puisi, tapi kata-kata gelap, yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan, ia tak mati-mati, meski bola mataku diganti.. meski bercerai dengan rumah.. telah kubayar yang dia minta, umur-tenaga-luka, kata-kata itu selalu menagih, padaku ia berkata, kau masih hidup, aku memang masih utuh, dan kata-kata belum binasa.
Menarik Pelajaran
Wiji Thukul memang harus mampu kita apresiasi lebih dari sekedar sebagai seorang martir perubahan, apalagi sekedar korban pelanggaran HAM berat oleh negara otoriter yang tak tahu malu. Ia adalah manusia pembebas zaman, perjuangannya yang begitu keras telah dibaktikan untuk negeri dan bangsanya. Kita yang masih beruntung dan menikmati buah perjuangannya ini haruslah malu kalau tak mampu mempelajari ilmunya, ya meski Wiji Thukul bukan seorang intelektual kampus dengan sederet gelar akademik, tapi ia patut dianggap sebagai cendekianya kaum melarat Indonesia.
Buah fikirnya yang terwujud dalam bait-bait sajak telah mampu menggugah dan mencerahkan banyak orang, bahkan menginspirasi terciptanya perlawanan rakyat. Upayanya mengamen puisi keliling di sekitar tahun 1986an telah memupuk kepekaannya terhadap realitas penindasan, sejak saat itu ia meyakini bahwa “Sastra punya kekuatan politik yang tak disadari dan dioptimalkan pekerjanya, sastra itu berbahaya, dengan tidak tahu soal politik, kita mudah saja dipermainkan, kita harus jadi pelaku, bukan objek, dan seniman harus memperjuangkan gagasannya ini.” Tegas seniman kerakyatan dalam sebuah majalah.
Wiji Thukul hidup dalam tempaan belenggu kemiskinan dan hanya bekerja jadi tukang pelitur meubel, tapi ia tidak pernah tinggal diam, mewakili kaumnya ia merasa tersadarkan bahwa kemiskinan yang dideritanya disebabkan oleh sistem hidup yang dikuasai oleh keserakahan segelintir kaum elit, dan kenyataan pahit itu bukanlah sesuatu yang alamiah, melainkan rekayasa penguasa yang harus didobrak. Untuk memahami gagasannya dengan baik, tak ada cara lain selain mempelajari karya-karyanya serta perjalanan hidupnya. Kita bisa mencobanya dengan membacai puisinya yang telah dibukukan, seperti dalam “Aku Ingin Jadi Peluru” terbitan Indonesia Tera 2000/2004, atau “Para Jenderal Marah-marah” terbitan TEMPO 2013.
Wiji Thukul dianugerahi penghargaan Wertheim Encourage Award oleh Wertheim Stichting Belanda pada tahun 1991 di bidang sastra dan seni teater sosial untuk jasa emansipasi rakyat Indonesia. Sejak itu ia makin menunjukkan loyalitasnya pada perjuangan kaum tertindas, tahun 1992 pertama kali turut mengorganisir masyarakat di kampungnya, Jagalan-Pucangsawit untuk memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo. Namanya semakin menggema di jagat pergerakan, tahun 1994 diundang sebagai peserta Konferensi Serikat Buruh Asia Pasifik di Perth, Australia, disana ia mementaskan drama perjuangan buruh. Maka dimulailah petualangannya memperjuangkan kebebasan sipil melalui demonstrasi jalanan di berbagai kota, hingga ia bersentuhan dengan beragam sektor gerakan rakyat seperti kaum buruh, tani, dan mahasiswa yang semakin memajukan kualitasnya.
Wiji Thukul menyadari akan pentingnya sebuah organisasi yang solid sebagai alat perjuangan yang efektif, termasuk bagi para seniman. Karena itu pada tahun 1994 bersama para seniman progresif lainnya seperti Semsar Siahaan, Linda Christanty, Rahardja Waluya Jati, Hilmar Farid, Danial Indrakusumah dan Moelyono, mendirikan organisasi Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER) dan ia diminta menjadi ketuanya. Jakker mencoba membangun jaringan yang dapat menghimpun para seniman progresif kerakyatan dari berbagai kota untuk berposisi tegas sebagai oposan pemerintah. Selanjutnya ia turut aktif berperan dalam pembentukan maupun perjuangan organisasi massa tingkat nasional lainnya seperti Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Serikat Tani Nasional (STN).
Tahun 1995 Wiji Thukul harus menerima kebutaan mata sebelah kirinya karena ditangkap, dipukuli dan dipopor oleh tentara setelah memimpin demonstrasi pemogokan 14.000 buruh PT Sritex. Aksi massa ini boleh terbilang fenomenal bagi gerakan protes di masa Orba, mengingat pemilik sahamnya adalah Harmoko dan sederet jenderal Angkatan Darat yang tak pernah digugat sebelumnya. Namun seperti dalam puisi yang ditulis pada November 1996 ia berkata ;
Kau lempar aku dalam gelap, hingga hidupku menjadi gelap, kau siksa aku sangat keras, hingga aku semakin mengeras, kau paksa aku terus menunduk, tapi keputusan tambah tegak, darah sudah kau teteskan dari bibirku, luka sudah kau bilurkan ke sekujur tubuhku, cahaya sudah kau rampas dari biji mataku, derita sudah naik seleher, kau menindas, sampai luar batas.
Wiji Thukul memang tidak menyerah dan putus harapan, bersama organisasi massa yang dipimpin kaum muda oposan rezim otoritarian Soeharto lainnya, ia justru membangun organisasi payung lintas sektoral berbentuk partai politik, yakni Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dideklarasikan pada 22 Juli 1996 di Jakarta. Namun sayangnya, lima hari setelah itu Pemerintah bereaksi semakin represif dan mengkambinghitamkan organisasinya sebagai dalang kerusuhan, bahkan dicap sebagai organisasi terlarang dan secara resmi dibubarkan paksa, para aktivisnya diburu, ditangkap, dan disiksa.
Tapi sekali lagi, Wiji Thukul yang sudah resmi menjadi buronan politik, bersama teman-teman PRDnya tetap terus bergerak melawan meski harus dilakukan secara klandestin, dengan alur koordinasi yang disiplin dan penuh penyamaran, serta dengan memunculkan komite-komite aksi spontan dan taktis. Hingga akhirnya mereka mampu menyulut protes rakyat yang lebih luas dan berujung pada tergulingnya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan pada Mei 1998. Tapi ternyata hilangnya Wiji Thukul barulah disadari betul pada tahun 2000, setelah berbagai usaha pencarian dengan bantuan berbagai pihak bahkan solidaritas internasional menghadapi jalan buntu.
Dari riwayat perjuangannya yang begitu pahit, kita semestinya menangkap betapa ia merupakan pejuang rakyat melarat yang cita-citanya begitu besar dan indah, perjuangannya begitu gigih dan tak kenal menyerah. Wiji Thukul bukanlah sekedar korban pelanggaran HAM, dia merupakan cendekia pembebas kaumnya, lewat puisi-puisinya kita bisa melihat betapa luas pengetahuannya, betapa besar perhatiannya kepada berbagai persoalan penindasan yang dialami mayoritas rakyat di negerinya, tentu ia bukanlah manusia terbaik yang Bangsa ini miliki, tapi ia adalah sebuah lembaran penting dalam pelajaran sejarah Indonesia kontemporer.
Barangkali inilah saatnya saya menyimpulkan, bahwa yang terpenting dari mengetahui sosok Wiji Thukul sekarang ini adalah dengan terus menghidupkannya dalam dunia kita, mempelajari gagasannya, dan menuntaskan perjuangannya. Indonesia yang ia cita-citakan belumlah terwujud, Bangsa ini masih terbelenggu oleh ekonomi politik gaya baru yang berjuluk Imperialisme-neoliberal, para penguasa kita sibuk memperkaya diri dan menggadaikan negeri kepada investor modal asing, anak-anak kita masih sulit mengakses pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, lapangan pekerjaan yang layak pun masih menjadi misteri yang tak bisa dijawab. Sebagai penutup, petikan puisinya ini semestinya patut kita renungkan untuk menghargai Wiji Thukul lebih besar lagi ;
Kutundukkan kepalaku, bersama rakyatmu yang berkabung, bagimu yang bertahan di hutan dan terbunuh di gunung.. aku penyair mendirikan tugu, meneruskan pekik salammu, a luta continua.. Kutundukkan kepalaku, kepadamu kawan yang dijebloskan ke penjara negara.. kepadamu ibu-ibu, hukum yang bisu telah merampas hak anakmu.. Kita tidak sendirian, Kita satu jalan, Tujuan kita satu ibu : Pembebasan !Kutundukkan kepalaku, kepada semua kalian para korban, sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk, Kepada penindas, tak pernah aku membungkuk, aku selalu tegak. (4 Juli 1997)
Bandar Lampung, 28 Agustus 2013.
*)Aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Wilayah Lampung, mahasiswa Sosiologi FISIP Unila.
Bandar Lampung, 28 Agustus 2013.
*)Aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Wilayah Lampung, mahasiswa Sosiologi FISIP Unila.
Ekspresi
![]() |
| Solidaritas Untuk Hugo Chaves |
SEKBER BURUH, Jakarta - Sejumlah orang yang menamakan diri Sekretaris Bersama (Sekber) Buruh se-Jabodetabek melakukan aksi solidaritas untuk mengenang wafatnya Presiden Venezuela Hugo Chavez di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan Hugo Chavez selama ini dalam perjuangan nasib para buruh. Pemimpin Partai Sosialis tersebut dianggap sebagai tokoh dunia yang mengilhami gerakan perjuangan buruh, termasuk buruh di Indonesia.
"Hugo orang yang mengilhami perjuangan buruh di dunia dan Indonesia. Dia mengispirasi perjuangan buruh, pekerja, kelas miskin bukan di negaranya saja, tapi juga di sini," kata Sultoni, Kordinator Aksi, kepada Sindonews, Jakarta, Rabu (7/3/2013).
Sultoni melanjutkan, aksi yang dilakukan saat ini bagian dari konsolidasi awal bagi buruh di Jabodetabek. Menurutnya, kedepan akan banyak momen terkait aksi-aksi perjuangan buruh, antara lain bulan Mei (May Day).
Kedepan, kata Sultoni, Hugo Chavez akan semakin menjadi simbol dalam aksi demontrasi mereka, termasuk peringatan hari buruh nanti. "Kita jadikan Hugo simbol perjuangan kita. Ada Evo Morales, dan Fidel Castro juga," tukasnya.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan Hugo Chavez selama ini dalam perjuangan nasib para buruh. Pemimpin Partai Sosialis tersebut dianggap sebagai tokoh dunia yang mengilhami gerakan perjuangan buruh, termasuk buruh di Indonesia.
"Hugo orang yang mengilhami perjuangan buruh di dunia dan Indonesia. Dia mengispirasi perjuangan buruh, pekerja, kelas miskin bukan di negaranya saja, tapi juga di sini," kata Sultoni, Kordinator Aksi, kepada Sindonews, Jakarta, Rabu (7/3/2013).
Sultoni melanjutkan, aksi yang dilakukan saat ini bagian dari konsolidasi awal bagi buruh di Jabodetabek. Menurutnya, kedepan akan banyak momen terkait aksi-aksi perjuangan buruh, antara lain bulan Mei (May Day).
Kedepan, kata Sultoni, Hugo Chavez akan semakin menjadi simbol dalam aksi demontrasi mereka, termasuk peringatan hari buruh nanti. "Kita jadikan Hugo simbol perjuangan kita. Ada Evo Morales, dan Fidel Castro juga," tukasnya.
Ekspresi
![]() |
| Jokowi |
SEKBER BURUH, Jakarta - Demo buruh hari ini mengakibatkan banyak taman kota yang rusak dan kotornya jalan Ibu Kota. Bagaimana tanggapan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) soal itu?
"Ya mestinya yang demo itu nyapu jalan yang kotor itu, sama nanem tanaman yang rusak itu. Ya gitu toh masak ngerusak sama ngotorin. Ya masak saya bagian nyapu terus," ujar Jokowi sambil tertawa di Balai Kota Jakarta, Rabu (1/5).
Jokowi menilai, para buruh seharusnya tidak usah merayakan Hari Buruh dengan berdemonstrasi. Sebab, demo buruh hari ini hanya mengakibatkan kemacetan lalu lintas.
"Ya Hari Buruh itu sebaiknya enggak usah demo, ya kan. Karena memacetkan lalu lintas, karena juga mengganggu masyarakat yang lain. Saya kira menyampaikan aspirasinya tidak harus lewat demo," jelasnya.
Lantas apa langkah antisipasi peringatan Hari Buruh tahun depan agar tak terjadi seperti tahun ini? "Haduhhh urusan besok saja masih banyak, pakai tahun depan," jawab Jokowi.
Sementara, soal keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menetapkan Hari Buruh akan diliburkan terhitung mulai tahu depan, Jokowi enggan memikirkannya. Sebab, hal itu menjadi kewenangan pemerintah pusat.
"Saya enggak berpikir itu dulu lah. Libur nasional? Saya siapa? Ya tanya ke pusat," tandasnya.
"Ya mestinya yang demo itu nyapu jalan yang kotor itu, sama nanem tanaman yang rusak itu. Ya gitu toh masak ngerusak sama ngotorin. Ya masak saya bagian nyapu terus," ujar Jokowi sambil tertawa di Balai Kota Jakarta, Rabu (1/5).
Jokowi menilai, para buruh seharusnya tidak usah merayakan Hari Buruh dengan berdemonstrasi. Sebab, demo buruh hari ini hanya mengakibatkan kemacetan lalu lintas.
"Ya Hari Buruh itu sebaiknya enggak usah demo, ya kan. Karena memacetkan lalu lintas, karena juga mengganggu masyarakat yang lain. Saya kira menyampaikan aspirasinya tidak harus lewat demo," jelasnya.
Lantas apa langkah antisipasi peringatan Hari Buruh tahun depan agar tak terjadi seperti tahun ini? "Haduhhh urusan besok saja masih banyak, pakai tahun depan," jawab Jokowi.
Sementara, soal keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menetapkan Hari Buruh akan diliburkan terhitung mulai tahu depan, Jokowi enggan memikirkannya. Sebab, hal itu menjadi kewenangan pemerintah pusat.
"Saya enggak berpikir itu dulu lah. Libur nasional? Saya siapa? Ya tanya ke pusat," tandasnya.
Ekspresi
Subscribe to:
Posts (Atom)






