Select Menu

ads2

Aksi

Kampanye

Kampanye

Aksi

Kabar Basis

‹
›

Kampanye

Ekspresi

Solidaritas

Artikel

SEKBER BURUH TV

Tolak kenaikan Harga BBM, Buruh dan Mahasiswa Ancam Mogok
Aksi PPRI Gagalkan Kenaikan BBM

Tolak kenaikan Harga BBM, Buruh dan Mahasiswa Ancam Mogok

Created on Monday, 24 November 2014 17:18

Jakarta, GATRAnews - Rasa kecewa akibat kenaikan harga BBM diteriakkan oleh sejumlah organisasi gabungan mahasiswa dan buruh. Salah satunya, kelompok yang menamakan diri Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI) siap bergerak menentang kebijakan pemerintah.

Rencananya, Rabu (26/11) nanti, PPRI dan aliansinya akan melakukan aksi penolakan kenaikan harga BBM dengan menyerukan mogok nasional. "Kami akan melakukan aksi serentak pada 26 Oktober mendatang. Bila tak juga digubris, kami akan melakukan aksi yang secara massal dengan menghentikan aktivitas ekonomi yakni mogok umum yang dilaksanakan di 60 kabupaten/kota," kata Jubir PPRI Sultoni dalam agenda konprensi pers di Kantor LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, Jakarta, Senin (24/11).

PPRI mengklaim aksi demo tersebut rencananya akan diikuti serentak di 60 Kota/Kabupaten. Aksi di Jakarta akan terkonsentrasi di wilayah Salemba Jakarta Pusat. Mereka menilai kenaikan harga BBM sangat merugikan rakyat khususnya kaum buruh.

"Parahnya, kenaikan harga BBM ini ditetapkan oleh pemerintah ditengah berbagai macam persoalan yang masih mendera rakyat pekerja. Komponen KHL yang menjadi basis dari upah minimum yang diatur oleh permenaker no 13 tahun 2012 masih jauh dari layak, " terangnya.

Dia berharap Pemerintahan Jokowi-JK memiliki hati nurani dan segera membatalkan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat itu. Sultoni juga mengatakan Aksi tersebut murni kekecewaan dari rakyat dan mahasiswa yang masih dimiskinkan oleh negara. Tidak ada unsur, lanjutnya, dengan pertikian elit di parlemen antara kubu KIH dan KMP "Konflik KIH versus KMP hanya perseteruan elit alias manuver yang hasilnya tidak ada hubungan dengan kesejahteran rakyat, " tandasnya.

Adapun organisasi yang tergabung dalam PPRI  adalah AMI (UI, IISIP, GUNADARMA, UHAMKA, UIN, UP, UNAS, PARAMADINA, UBK, TRISAKTI, APP, UNISMA Bekasi, Marcubuana, KP FMK, PEMBEBASAN, LMND, FORMAD, FMN dan SMI, KANITA IISIP) FPBI, SBTPI, SGBN, KSN, SBMI, SPRI, KPOP, FBLP, POLITIK RAKYAT, PRP, KPO-PRP, KPRI, KOMUNITAS RAKYAT TANPA PARTAI.

Penulis: Ervan Bayu
Editor: Nur Hidayat

Ribuan Demonstran Tolak Kenaikan BBM, Kawasan Salemba Lumpuh
Aksi PPRI Gagalkan Kenaikan BBM

Ribuan Demonstran Tolak Kenaikan BBM, Kawasan Salemba Lumpuh

Jakarta - Ribuan anggota organisasi mahasiswa, buruh dan masyarakat umum yang tergabung dalam Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI) melakukan aksi tutup jalan di Jalan Raya Salemba, Jakarta Pusat, Rabu petang (26/11). Ruas Jalan Salemba tidak bisa dilalui oleh kendaraan pada petang ini.

Nampak, Jalan Salemba Raya dari arah Jatinegara menuju Senen lumpuh total. Sementara akses di Jalan Diponegoro juga terlihat lumpuh dengan penjagaan ketat aparat kepolisian. Aksi massa ini dimulai bertepatan dengan waktu jam pulang kerja wilayah Jakarta.

Aksi gabungan ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Aksi sudah direncanakan dua hari sebelumnya. PPRI menilai kenaikan harga BBM bersubsidi sangat merugikan rakyat miskin dan kaum buruh.

"Bersatu. Batalkan kenaikan harga BBM. Tolak politik upah murah. Lawan represivitas aparat. Hentikan liberalisasi ekonomi," teriak salah seorang orator dihadapan ribuan massa aksi dari atas mobil bak terbuka

Dalam aksi ini, PPRI meminta Jokowi-JK kedepankan hati nurani dan segera membatalkan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.

Sampai sore ini ribuan peserta demonstrasi masih melakukan aksi damai. Tapi sejumlah mobil water cannon dan barracuda telah disiapkan oleh aparat. Kendaraan taktis itu terparkir sekitar 1 kilometer dari tempat konsentrasi massa PPRI.

Adapun organisasi yang tergabung dalam PPRI adalah mahasiswa dari UI, IISIP, Gunadarma, UHamka, UIN, UP, Unas, Paramadina, UBK, Trisakti, APP, Unisma Bekasi, Marcubuana, KP FMK, LMND, Formad, FMN dan SMI, KANITA IISIP, lalu barisan buruh dari FPBI, SBTPI, SGBN, KSN, SBMI, SPRI, KPOP, FBLP, PRP, KPO-PRP, KPRI, Komunitas Rakyat Tanpa Partai. (*/rmol)



Ribuan Massa Demo Tolak BBM Naik, Salemba Lumpuh
Aksi PPRI Gagalkan Kenaikan BBM

Ribuan Massa Demo Tolak BBM Naik, Salemba Lumpuh

Politikindonesia - Ribuan orang dari berbagai elemen organisasi mahasiswa, buruh dan masyarakat umum yang tergabung dalam Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI) menggelar aksi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), Rabu (26/11) sore.  Mereka tumpah ruah ke jalan Salemba, Jakarta, yang membuat lalu lintas di kawasan itu lumpuh.


Adapun organisasi yang tergabung dalam PPRI adalah mahasiswa dari UI, IISIP, Gunadarma, UHamka, UIN, UP, Unas, Paramadina, UBK, Trisakti, APP, Unisma Bekasi, Marcubuana, KP FMK, LMND, Formad, FMN dan SMI, KANITA IISIP, lalu barisan buruh dari FPBI, SBTPI, SGBN, KSN, SBMI, SPRI, KPOP, FBLP, PRP, KPO-PRP, KPRI, Komunitas Rakyat Tanpa Partai.


Akibat aksi  demontrasi ini, jalan dari Jatinegara menuju Senen lumpuh total. Sementara akses di Jalan Diponegoro juga terlihat lumpuh dengan penjagaan ketat aparat kepolisian. Aksi massa digelar bertepatan dengan waktu jam pulang kerja, saat lalu lintas sedang padat..


Aksi gabungan ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Aksi sudah direncanakan 2 hari sebelumnya. PPRI menilai kenaikan harga BBM bersubsidi sangat merugikan rakyat miskin dan kaum buruh.


“Bersatu. Batalkan kenaikan harga BBM. Tolak politik upah murah. Lawan represivitas aparat. Hentikan liberalisasi ekonomi," teriak salah seorang orator atas mobil bak terbuka


Dalam aksi ini, PPRI meminta Jokowi-JK mengedepankan hati nurani dan segera membatalkan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.


Hingga sore, suasa demontrasi masih kondusif. Akan tetapi,


sejumlah mobil water cannon dan barracuda telah disiapkan oleh aparat. Kendaraan taktis itu terparkir sekitar 1 kilometer dari tempat konsentrasi massa PPRI.
(nif/rin/kap)
Sumber: http://www.politikindonesia.com/index.php?k=politik&i=62714

 

Tolak Kenaikan BBM, PPRI Tutup Jalan Salemba Raya
Tolak Kenaikan BBM, PPRI Tutup Jalan Salemba Raya

"Tanpa harus menjadi presiden atau menteri, kenaikan BBM jelas memicu kenaikan macam harga kebutuhan hidup lainnya. Dan rakyat kecil yang paling merasakan dampaknya"

Jakarta, Aktual.co —Ribuan massa dari Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI) melakukan aksi blokade jalan di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.

Mereka menolak kebijakan Pemerintahan Jokowi-JK menaikkan harga BBM bersubsidi, dan menolak upah murah buruh di Jakarta.

"Tanpa harus menjadi presiden atau menteri, kenaikan BBM jelas memicu kenaikan macam harga kebutuhan hidup lainnya. Dan rakyat kecil yang paling merasakan dampaknya," kata Koordinator Aksi, Marlo Sitompul, di Jakarta, Rabu (26/11).

Dalam orasinya Marlo menuding pemerintahan sekarang sudah dilingkari orang-orang berpaham kapitalis.

"Pemerintah Jokowi-JK adalah antek - antek Neolib, mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri bukan rakyatnya tapi mementingkan pihak asing," ungkapnya.

Dalam aksinya, massa PPRI sebelumnya melakukan 'longmarch' dari depan kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) menuju jalan Salemba Raya dengan penjagaan ketat dari pihak kepolisian Sektor Pusat dan Polda Metro Jaya.

Ratusan Polisi Kawal Aksi Tolak Kenaikan Harga BBM di Salemba

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aksi tolak kenaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi premium dan solar, kini terjadi di depan Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, Jalan Salemba Raya, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2014).

Hal demikian membuat ratusan personel gabungan kepolisian dari Polda Metro Jaya dan Polsek Senen, mengawasi aksi tersebut. Hasil pengamatan Warta Kota, nampak puluhan sepeda motor milik kepolisian menjadi pagar pembatas di Jalan Salemba Raya dan Jalan Diponegoro.

Hal demikian dilakukan agar para pengendara motor dan mobil dapat melintas dan para aksi yang tergabung dari buruh dan mahasiswa, tidak melebar memenuhi jalan.

Selain itu, nampak beberapa unit watercanon bertengger di bibir Jalan Diponegoro. Selain itu, ratusan kepolisian juga menghadang para aksi massa agar tidak melebar ke jalan Salemba Raya.

Seruan mereka terkait Presiden Joko Widodo terus diutarakan. Melalui pengeras suara di mobil komando, mahasiswa beralmamater merah ini menganggap Jokowi tidak penuhi janji.

"Mana janji Jokowi kepada rakyat. Mengapa rakyat ditindas seperti ini. Rakyat merasa kesulitan terhadap naiknya harga BBM," teriak orator aksi.

Kapolsek Senen, Kompol Kartono mengatakan, pihaknya menjamin akan mengawasi jalannya aksi hingga bubar. Bahkan dirinya akui, aksi tersebut tak berdampak kericuhan.

"Kami yakin, aksi ini berjalan dengan damai. Walaupun kemacetan tak bisa dihindari. Namun, kami upayakan sebisa mungkin untuk mengatur lalin dengan baik. Biar pengendara bisa melintas," kata Kapolsek.

Hingga berita ini diturunkan, aksi menolak kenaikkan harga BBM di Jalan Salemba Raya masih berlangsung. Terlihat kondisi arus lalin di jalan tersebut masih sama.

___________________________________________________________ 


Massa PPRI blokade jalan, tolak kenaikan BBM

Massa PPRI blokade jalan, tolak kenaikan BBM 

JAKARTA. Massa Pusat Relawan Rakyat Indonesia (PPRI) menggelar aksi demo atas kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di jalan Salemba Raya Jakarta Pusa. Aksi ini diikuti dengan memblokadi jalan.

"Tanpa harus menjadi Presiden atau menteri, kenaikan BBM jelas memicu kenaikan macam harga kebutuhan Hidup lainnya, dan rakyat kecil yang paling merasakan dampaknya," kata Kordinator Aksi Marlo Sitompul, Rabu (26/11).

Marlo melanjutkan, pemerintahan sekarang ini sudah di lingkari oleh orang kapitalis.

"Pemerintah Jokowi-JK adalah antek - antek Neolib, mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri bukan rakyatnya tapi mementingkan pihak Asing," ungkapnya.

Dalam aksinya tersebut, PPRI sebelumnya melukan longmarch dari depan kantor LBH menuju jalan Salemba Raya dengan penjagaan ketat dari pihak kepolisian Sektor Pusat dan Polda Metro Jaya.



Sumber: http://nasional.kontan.co.id/news/massa-ppri-blokade-jalan-tolak-kenaikan-bbm/

Selanjutnya lihat : PPRI in Media (5)
Minta Harga BBM Kembali Diturunkan, PPRI Tutup Jalan Salemba

Minta Harga BBM Kembali Diturunkan, PPRI Tutup Jalan Salemba

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ratusan anggota Pusat Relawan Rakyat Indonesia (PPRI) beraksi dengan memblokade Jalan Salemba Raya Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2014).

Dalam tuntutannya, PPRI mendesak pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla terkait kebijakannya menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan menolak upah murah yang diterima buruh di Jakarta.

"Tanpa harus menjadi presiden atau menteri, kenaikan harga BBM jelas memicu kenaikan macam harga kebutuhan hidup lainnya, dan rakyat kecil yang paling merasakan dampaknya," kata Koordinator Aksi Marlo Sitompul di Jakarta, Rabu (26/11/2014).

Menurutnya, pemerintahan sekarang ini sudah dilingkari orang kapitalis. "Pemerintah Jokowi-JK adalah antek-antek Neolib, mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri bukan rakyatnya tapi mementingkan pihak asing," ungkapnya.

Dalam aksinya tersebut, PPRI sebelumnya melakukan longmars dari depan kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta menuju Jalan Salemba Raya dengan penjagaan ketat dari kepolisian Sektor Pusat dan Polda Metro Jaya.

_______________________________________________________


Akan Gelar Aksi Serentak, PPRI Jawab Tantangan JK

Akan Gelar Aksi Serentak, PPRI Jawab Tantangan JK

RevolusiNews.com, Jakarta – Puluhan organisasi yang tergabung dalam Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI) akan menggelar aksi serentak di 60 kabupaten kota untuk mendesak pembatalan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla.

“Pada Rabu 26 November 2014 di 60 kota dan kabupatan kami akan bergerak pada momentum aksi serentak pertama. Untuk wilayah Jabodetabek akan terpusat di Jakarta tepatnya di kampus UI Salemba Jalan Salemba Raya pukul 13.00 wib. Ini titik tolak untuk dilanjutkan pada konsolidasi menuju mogok umum secara nasional,” ujar Sultoni dari PPRI dalam jumpa pers di Jakarta (24/11).

PPRI mengusung agenda antara lain batalkan kenaikan harga BBM, upah layak untuk buruh, hentikan represifitas aparat, nasionalisasi sektor migas serta aset-aset vital dan strategis bagi penambahan pendapatan negara dan kesejahteraan rakyat, berlakukan pajak progresif yang ketat bagi penambahan pendapatan negara.

“Kita akan turun di 60 kota, penetapan UMP belum dihitung dengan kenaikan harga BBM. PPRI menyerukan kepada rakyat untuk turun bersama melalukan aksi simpatik kumpul di Salemba Raya untuk menggelar rapat akbar mendesak pembatalan kenaikan harga BBM,” ajak Marlo Sitompul dari Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia.

Adapun Lamen Hendra Saputra dari Aliansi Mahasiswa Indonesia mengatakan elemen mahasiswa akan bergerak dari kampus-kampus untuk bergabung dalam aksi PPRI 26 November 2014.

“Kita sudah bergerak di puluhan kampus di Jakarta untuk menjawab tantangan JK. Kita harus batalkan rencana kenaikan harga BBM di 2015 dan jawab provokasi JK bahwa penolakan kenaikan harga BBM hanya berjalan 2 minggu,” tegas Lamen.

Memurutnya, mahasiswa bersama PPRI akan membuktikan pada pemerintah bahwa mahasiswa tidak berjuang sendiri tapi bergabung dengan gerakan lain.

“Tanggal 26 November 2014 kami akan menggelar aksi serentak. Kami serukan pabrik dan kampus melakukan mogok nasional. Kami butuh presiden yang jujur dan tidak bertele-tele seperti Jokowi-JK. Kami merasa dikhianati oleh pemerintahan yang baru saja dilantik yang kerjanya hanya menindas rakyat dan melanjutkan program neoliberalisasi pemerintahan SBY Boediono,” tutup Lamen.



Bersambung ke: PPRI In Media (4)

Tolak BBM Naik, PPRI Klaim Aksi Serentak di 60 Kota


Jakarta, Seruu.com - Teriakan kekecewaan akan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi digaungkan oleh sejumlah organisasi gabungan mahasiswa dan buruh. Salah satunya, kelompok yang menamaikan diri Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI) siap bergerak menentang kebijakan pemerintah.

Rencananya, Rabu (26/11) nanti, PPRI dan aliansinya akan melakukan aksi penolakan kenaikan harga BBM.

PPRI mengklaim aksi demo tersebut rencananya akan diikuti serentak di 60 Kota/Kabupaten. Aksi di Jakarta akan terkonsentrasi di wilayah Salemba Jakarta Pusat. Mereka menilai kenaikan harga BBM sangat merugikan rakyat khususnya kaum buruh.

"Parahnya, kenaikan harga BBM ini ditetapkan oleh pemerintah di tengah berbagai macam persoalan yang masih mendera rakyat pekerja. Komponen KHL yang menjadi basis dari upah minimum yang diatur oleh permenaker no 13 tahun 2012 masih jauh dari layak, " terang Jubir PPRI Sultoni dalam jumpa pers di Kantor LBH Jakarta, Jakarta.

Dia berharap Pemerintahan Jokowi-JK memiliki hati nurani dan segera membatalkan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat itu.

Sultoni juga mengatakan Aksi tersebut murni kekecewaan dari rakyat dan mahasiswa yang masih dimiskinkan oleh negara. Tidak ada unsur, lanjutnya, dengan pertikian elit di parlemen antara kubu KIH dan KMP

"Konflik KIH versus KMP hanya perseteruan elit alias manuver yang hasilnya tidak ada hubungan dengan kesejahteran rakyat, " tandasnya.

Adapun organisasi yang tergabung dalam PPRI , AMI (UI, IISIP, GUNADARMA, UHAMKA, UIN, UP, UNAS, PARAMADINA, UBK, TRISAKTI, APP, UNISMA Bekasi, Marcubuana, KP FMK, PEMBEBASAN, LMND, FORMAD, FMN dan SMI, KANITA IISIP) FPBI, SBTPI, SGBN, KSN, SBMI, SPRI, KPOP, FBLP, POLITIK RAKYAT, PRP, KPO-PRP, KPRI, KOMUNITAS RAKYAT TANPA PARTAI. [Simon]


Ribuan Massa PPRI Tutup Jalan Salemba

Ribuan Massa PPRI Tutup Jalan Salemba

Jakarta, Seruu.com - Ribuan massa dari organisasi mahasiswa dan buruh yang mengatasnamakan Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI) menutup Jalan Raya Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2014).
Dalam aksinya massa menolak keras kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. PPRI menilai kenaikan harga BBM sangat merugikan rakyat miskin dan kaum buruh.

Pantauan Seruu.com, akibat aksi ini ruas Jalan Salemba Raya dari arah Jatinegara menuju Senen lumpuh total. Selain itu, Jalan Diponegoro juga hampir lumpuh.

Dalam aksi ini, PPRI berharap Pemerintahan Jokowi-JK memiliki hati nurani dan segera membatalkan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat itu.

"Jokowi-JK rezim neolib. Turunkan harga BBM sekarang juga, " teriak kompak sejumlah peserta aksi

Adapun organisasi yang tergabung dalam PPRI , AMI (UI, IISIP, GUNADARMA, UHAMKA, UIN, UP, UNAS, Paramadina, UBK, TRISAKTI, APP, Unisma Bekasi, Marcubuana, KP FMK, Pembebasan, LMND, FORMAD, FMN dan SMI, KANITA IISIP) FPBI, SBTPI, SGBN, KSN, SBMI, SPRI, KPOP, FBLP, POLITIK RAKYAT, PRP, KPO-PRP, KPRI, Komunitas Rakyat Tanpa Partai.


Hingga berita ini diturunkan, aksi ribuan massa ini masih berjalan damai. Ratusan aparat Kepolisian terlihat berjaga mengamankan aksi ini. Sejumlah mobil water canon dan baracuda telah dipersiapkan. Namun masih terparkir sekitar 1 kilometer dari tempat konsentrasi massa PPRI. [Simon]

Bersambung Ke PPRI In Media (3)

Rabu Lusa, Buruh dan Mahasiswa Aksi Besar-Besaran
PARA anggota Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI) yang terdiri dari buruh dan mahasiswa dalam konferensi pers di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Jalan Diponegoro, Jakarta, Senin (24/11/2014). PRRI akan melakukan aksi nasional di 17 provinsi dan 60 kab/kota mulai 26 November 2014.Photo:
ARIE C. MELIALA/"PRLM

Rabu Lusa, Buruh dan Mahasiswa Aksi Besar-Besaran

JAKARTA, (PRLM).- Para buruh dan mahasiswa akan melakukan aksi besar-besaran menentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM memang Rp 2.000/l, tetapi dampaknya membuat harga apa pun menjadi naik saat ini.

Aksi unjuk rasa ini diserukan Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI) yang akan dilakukan di 17 provinsi dan 60 kab/kota. Beberapa provinsi di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Utara, Jakarta, dll.

Hal itu dikemukakan anggota PPRI dalam konferensi pers di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Jalan Diponegoro, Jakarta, Senin (24/11/2014). Koordinator Sentral Gerakan Buruh Nasional (SGBN) Sultoni mengatakan pemerintah tengah menutup mata atas kesulitan yang dirasakan buruh.

"Kami sadari kebijakan ini tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Kami akan merespons dan membuktikan kekuatan. Kami akan tunjukkan penentangan sehebat-hebatnya," kata Sultoni. (Arie C. Meliala/A-88)***


Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/305884

____________________________________________________________________________________

 
Tolak BBM Naik, PPRI Blokade Jalan Salemba
Ribuan orang yang tergabung dalam Pusat Relawan Rakyat Indonesia (PPRI) melakukan aksi dengan Memblokade jalan Salemba Raya Jakarta Pusat. (Komaruddin Bagja/Sindonews)

Tolak BBM Naik, PPRI Blokade Jalan Salemba

JAKARTA - Ribuan orang yang tergabung dalam Pusat Relawan Rakyat Indonesia (PPRI) melakukan aksi memblokade Jalan Salemba Raya Jakarta Pusat.

Mereka menolak kebijakan Pemerintahan Jokowi-JK yang menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan menolak upah murah yang diterima buruh di Jakarta.

"Tanpa harus menjadi Presiden atau menteri, kenaikan BBM jelas memicu kenaikan macam harga kebutuhan hidup lainnya, dan rakyat kecil yang paling merasakan dampaknya," kata Kordinator Aksi Marlo Sitompul di Jakarta di Salemba, Rabu (26/11/2014).

Marlo melanjutkan, pemerintahan sekarang ini sudah di lingkari oleh orang kapitalis.

"Pemerintah Jokowi-JK adalah antek - antek Neolib, mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri bukan rakyatnya tapi mementingkan pihak asing," ungkapnya.

Sebelum melakukan blokade Jalan Salemba, PPRI melakukan longmarch dari depan kantor LBH menuju jalan Salemba Raya dengan penjagaan ketat dari pihak kepolisian Sektor Pusat dan Polda Metro Jaya.
 

Sumber: http://metro.sindonews.com/read/929442/31/tolak-bbm-naik-ppri-blokade-jalan-salemba-1416934800

Selanjutnya baca: PPRI in Media (2)
Mengapa Harus Membatalkan Kenaikan Harga BBM?
Persatuan Perlawanan Rakyat Indonesia
PUSAT PERLAWANAN RAKYAT INDONESIA (PPRI)

Bersatu, Batalkan kenaikan harga BBM!
Tolak Politik Upah Murah! Lawan Represifitas Aparat!
Lawan Liberalisasi Ekonomi!

Mengapa Harus Membatalkan Kenaikan Harga BBM?
  1. Sebenarnya selama ini tidak pernah ada subsidi terhadap harga BBM, karena harga BBM sudah sangat jauh di atas biaya produksi—seharusnya dengan keuntungan 10 %, harga BBM hanya Rp 1700.
  2. Penggunaan BBM selama ini justru digunakan untuk aktivitas produktif; ada sekitar 76,3 juta sepeda motor di Indonesia, sementara mobil penumpang hanya sekitar 10,4 juta, dan sebagian besar digunakan untuk hilir mudik mencari nafkah, bukan untuk hura-hura.
  3. Kenaikan harga BBM justru mempermudah SPBU yang dikuasai oleh Swasta (terutama Internasional) merajalela—karena harga BBM menjadi sama dengan harga internasional. Sudah ada ijin untuk 80 ribu SPBU Asing yang siap beroperasi di Indonesia pasca kenaikan harga BBM ini.
  4. Persoalan lainnya adalah selama ini pengelolaan tambang minyak sebagian besar dikelola oleh swasta (terutama internasional) sehingga hanya 25 % saja hasil minyak bumi yang menjadi “hak” negara, sehingga kebutuhan dalam negeri selalu kurang dan harus membeli ke swasta dengan harga sangat mahal.
  5. Pemerintah mengatakan dana BBM akan dialihkan ke infrastuktur—jalan raya, rel kereta api, pelabuhan, bandara dll---kenyataannya selama ini semua pembangunan infrastruktur tidak membuat rakyat semakin sejahtera, melainkan hanya untuk memfasilitasi para pemodal dalam melakukan usahanya.
  6. Tanpa harus menjadi Presiden atau menteri, atau pengamat ekonomi, kenaikan harga BBM jelas memicu kenaikan berbagai macam harga kebutuhan hidup lainnya, dan rakyat kecil yang paling merasakan dampaknya---sekarang kita sudah merasakan hidup makin sulit karena kenaikan harga BBM kemarin.
  7. KIS-KIP atau kartu lainnya, selain hanya untuk sebagian kecil rakyat, juga tidak cukup untuk mengatasi kenaikan harga-harga kebutuhan hidup.
  8. Sementara rakyat dipaksa untuk semakin “berhemat”, di sisi lain, tidak ada pengurangan yang signifikan untuk fasilitas-gaji para Pejabat-Pejabat Negara (mereka tetap hidup sangat kaya; mobil mewah, rumah mewah, makanan mewah, ke rumah sakit pun bisa ke luar negeri, menyekolahkan anak-anak ke luar negeri, bahkan jalan-jalan pun ke luar negeri).
  9. Juga tidak ada usaha pemerintah untuk mendistribusikan kekayaan Indonesia—yang selama ini hanya dinikmati sebagian kecil orang, menjadi lebih merata. 10 orang terkaya di Indonesia, total kekayaannya mencapai 620 Trilyun atau sama dengan total upah untuk 1 juta buruh DKI selama dua puluh tahun (dengan UMP 2015 sebesar 2,7 juta)
Mengapa Harus Menolak Upah Murah?
  1. Buruh adalah bagian dari kelompok masyarakat yang karena kerjanya, membuat kita semua bisa menggunakan baju, celana, listrik, alat elektronik, tranportasi, obat, rumah dan lain sebagainya—pendek kata, tanpa kerja buruh, dunia mati.
  2. Selama puluhan tahun, buruh Indonesia hanya diperas tenaganya, dan tak pernah mendapatkan kejahteraan yang memadai---sama dengan rakyat miskin non buruh formal. Ini membuat selama puluhan tahun, kerja buruh (yang menghasilkan barang-jasa) justru sebagian besar dinikmati oleh pengusaha dan tentu saja pemerintah.
  3. Sehingga anak-anak buruh dan keluarga buruh tidak bisa berkembang sebagai manusia yang seutuhnya—tinggal dikontrakan kumuh, makan kurang gizi, tak berkembang pengetahuan, dan bentuk bentuk ketertinggalan lainnya.
  4. Alasan bahwa pengusaha akan bangkrut, adalah alasan untuk menakut-nakuti buruh—dan sekaligus mencari dukungan masyarakat---agar buruh tidak menuntut kenaikan upah yang cukup memadai, karena belum ada bukti bahwa mayoritas perusahaan bangkrut karena kenaikan upah, dan misalnya perusahaan bangkrut harusnya pemerintah bisa menalangi dengan memberikan suntikan modal atau jenis-jenis bantuan lainnya, tanpa harus mengorbakan buruh.
  5. Saat ini, tuntutan buruh secara umum adalah kenaikan upah 30 %, walaupun Pemerintah sudah menetapkan kenaikan upah di bawah 30 %. Tuntutan kenaikan upah 30 % barulah sebatas untuk bertahan hidup sebelum BBM dinaikkan, belum untuk menjadi sejahtera. Oleh karenanya peningkatan upah harus segaris lurus dengan pembatalan kenaikan harga BBM.
Bagaimana Memenangkan Tuntutan?
  1. Persatuan rakyat adalah kunci. Selama ini gerakan penolakan kenaikan harga BBM masih didominasi oleh mahasiswa. Sedangkan gerakan buruh yang bergolak di beberapa daerah dalam menuntut upah belum banyak mengangkat penolakan terhadap kenaikan harga BBM. Begitu juga rakyat di kampung-kampung, belum bergerak sama sekali. Padahal kenaikan harga BBM dan Upah Murah, justru akan semakin memiskinkan rakyat di setiap sektor baik buruh, tani, nelayan, kaum miskin kota, maupun pelajar-mahasiswa. Sedangkan gerakan mahasiswa mendapat kesulitan dalam memperluas perlawanan karena sering diadu-domba dengan pihak-pihak yang mengatasnamakan ‘rakyat’. Sehingga yang dibutuhkan untuk memenangkan perjuangan adalah bersatunya Buruh, Pemuda-Mahasiswa, Miskin kota, dan Tani.
  2. Pergerakan inipun tidak bisa lagi bergerak secara lokal, tanpa pergerakan dan perlawanan secara nasional yang lebih massif dan lebih kuat. Perlawanan yang massif secara nasional—apalagi jika sudah menyatu kekuatan mahasiswa, buruh dan rakyat miskin—akan sanggup menghadapi upaya untuk membenturkan aksi mahasiswa dengan rakyat, sekaligus sanggup menghadapi tindakan respresif aparat yang semakin hari semakin keras.
  3. Oleh karena itu, bergabung bersama kami dalam PERLAWANAN SERENTAK NASIONAL pada 26 November yang akan meliputi 15 Propinsi dan 60 kota.
  4. Perlawanan Serentak Nasional akan menjadi bagian dalam persiapan menuju Pemogokan Umum Rakyat—di mana buruh akan menghentikan produksi di pabrik-pabrik, mahasiswa akan mogok belajar, kaum miskin kota akan mogok berativitas; Intinya sebuah pemogokan besar-besaran! Karena tanpa desakan yang sangat kuat, mustahil kenaikan harga BBM bisa dibatalkan, mustahil kenaikan upah minimal 30 % bisa didapatkan. Intinya, mustahil ada perubahan, jika rakyat tidak bergerak dengan gelora perlawanan yang pantang menyerah.
  5. Untuk mahasiswa di Jabotabek, kaum buruh di Jabotabek, rakyat miskin di Jabotabek, dan untuk siapapun yang sudah bosan dengan kemiskinan, sudah bosan dengan tipuan elit, sudah muak dengan ketidakadilan, marah dengan kenaikan harga BBM, marah dengan pendapatan yang selalu kurang; Datang dan Berkumpul bersama kami dalam “Perlawanan Rakyat “ Hari Rabu, 26 November 2014; Jam 13.00 di depan Universitas Indonesia, Salemba. Kita akan satukan kekuatan menghadapi REJIM PENINDAS RAKYAT.
Jangan Ragu, Jangan Takut! Yakinlah Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan!

Namun itu, karena setiap orang yang ‘tak waras’ selalu berkata “kalau kamu jadi presiden juga akan menaikkan harga BBM” seraya mendukung kebijakan sesat pemerintah, maka kami perlu memberikan solusi yang mampu membatalkan kenaikan harga BBM.

Apa Solusinya?
Jangka Pendek:
  1. Pangkas biaya-biaya perjalanan pejabat negara; pangkas gaji dan tunjangan pejabat negara!
  2. Terapkan pajak progresif yang ketat bagi para pengusaha dan orang kaya!
  3. Berantas korupsi dan sita harta-harta koruptor bagi pemasukan negara!
  4. Tunda pembayaran hutang luar negeri!
Jangka Menengah dan Panjang:
  1. Hentikan liberalisasi ekonomi!
  2. Nasionalisasi sektor migas serta aset-aset vital lainnya bagi peningkatan pendapatan negara, kemandirian nasional dan kesejahteraan rakyat, dibawah kontrol rakyat!
  3. Hapus hutang luar negeri!
Kami yang tergabung dalam Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI):
SGBN, FPBI, KSN, SBTPI, SBMI, GSPB, Frontjak, FBLP, RTP, GKRI, SPRI, AMP-HK, Aliansi Mahasiswa Indonesia (LMND, Semar UI, Formasi IISIP, GUNADARMA, UHAMKA, UIN, UP, UNAS, PARAMADINA, UBK, TRISAKTI, APP, UNISMA, UNTIRTA, KP FMK, PEMBEBASAN, FORMAD, FMN, SMI, KANITA IISIP), SGMK, KPOP, HMI STEI Rawamangun, KPRI, Rekan Indonesia, PRP, PPI, PPR, Politik Rakyat, KPO-PRP
Upah Buruh Jakarta Tahun 2015 Turun (Coba Hitung Pakai Dollar Kawan)
Upah Buruh Jakarta Turun, Kok Bisa?
SEKBERBURUH, JAKARTA - Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta 2015 yang telah ditetapkan sebesar sebesar Rp 2,7 juta per bulan mengalami penurunan. Penjelasannya, nilai UMP DKI Jakarta 2014 sebesar Rp 2.441.302 dihitung saat nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah masih Rp 10.000 per dollar AS. Berdasarkan hitungan dollar AS, maka nilainya setara US$ 241 per bulan. Sedangkan kurs saat ini adalah Rp 12.000 per dollar AS, sehingga UMP DKI Jakarta 2015 hanya senilai US$ 225 per bulan. Dalam kata lain, UMP DKI Jakarta 2015 ini mengalami penurunan sebesar US$ 16 per bulan.

Meskipun pemerintah telah menaikkannya hingga 11 persen dibandingkan UMP 2014 yang hanya Rp 2.441.302 per bulan, para buruh malah menganggap nilai UMP DKI Jakarta 2015 itu justru mengalami penurunan. Demikian penjelasan yang diutarakan oleh anggota Dewan Pengupahan dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Dedy Hartono.

“Kalau dihitung dan diakumulasi sebenarnya nilai UMP turun. (Pada saat ini) akhirnya nilai itu akan tergerus dengan kenaikan harga BBM. Jadi kenaikan UMP DKI sebesar 10 persen sama aja bohong,” ungkap Dedy pada Senin (24/11/2014) kepada media.
Jelas hal inilah yang membuat para buruh tidak bisa menerima keputusan tersebut. Selain nilainya kalah jauh dari besaran Upah Minimum Kota (UMK) Bekasi, Jawa Barat yang pada tahun 2015 mendatang sebesar Rp 2,9 juta, angka tersebut memang dianggap para buruh belum bisa mencukupi kebutuhan hidup layak (KHL) mereka.

Selain itu, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi juga ikut semakin mengurangi nilai dari UMP ini, karena pastinya harga kebutuhan pokok secara otomatis juga akan naik. Bahkan, saat dilakukan survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL), harga beberapa kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, hingga sewa kamar pun sudah mengalami kenaikan.

“Saat kami melakukan survei KHL beberapa kebutuhan buruh sudah mengalami kenaikan. Naiknya cukup drastis seperti harga makanan dan minuman dan termasuk harga kos-kosan sudah naik,” jelas Dedy menambahkan alasan UMP DKI Jakarta 2015 harusnya lebih tinggi.

Sebenarnya, menurut Dedy, sejak awal buruh sudah merekomendasikan kepada Pemprov DKI Jakarta agar penetapan nilai UMP DKI Jakarta 2015 menjadi Rp 3 juta. Presiden KSPI Said Iqbal setuju menurunkan tuntutan kenaikan UMP DKI Jakarta dari 30 persen menjadi 22,9 persen atau dari Rp. 3,7 menjadi Rp. 3 juta saja. Namun, ternyata pemerintah merespon langkah tersebut dengan menetapkan UMK yang lebih rendah lagi, yakni hanya Rp 2,7 juta.

Oleh karena itu, para buruh berencana akan kembali menyampaikan tuntutan untuk merevisi keputusan tersebut dan menaikkan UMP DKI Jakarta 2015, setidaknya setara dengan UMK Bekasi 2015 sebesar Rp 2,9 juta.

Menurut Dedy, nilai Rp 2,9 juta itu menjadi perbandingan, karena Dewan Pengupahan Kota Bekasi sudah memasukkan nilai inflasi pada tahun 2015, sebagai akibat dari kenaikan harga BBM subsidi sebesar Rp 2.000 per liter. Sedangkan UMP DKI Jakarta 2015 hanya memperhitungkan KHL sebesar Rp 2.538.174,31, ditambah dengan prediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan.

“Saya kemarin sudah memformulasikan nilainya sama dengan Bekasi sebesar Rp 2.990.000. Nilai itu karena adanya penambahan inflasi sebesar 5,5 persen dan 10 persen dari nilai konversi terhadap kenaikan BBM. Saya pikir ini angka yang elegan,” tambah Dedy lagi.

Berkaitan dengan penolakan keputusan besaran upah Jakarta ini, rencananya buruh akan kembali berunjuk rasa pada Selasa (25/11/2014). Setelah itu, semua buruh dari berbagai daerah akan berkumpul di Jakarta pada Rabu (26/11/2014), untuk menuntut upah dan menolak kenaikan BBM di depan istana.
Berlakukan Upah Layak Nasional Bukan Upah Murah
Aksi Menuntut Upah Layak Nasional
SEKBERBURUH, JAKARTA - Tuntutan buruh adalah Upah Layak Nasional (ULN) bukan upah murah yang dinilai sangat eksploitatif dan diskriminatif. Upah setiap daerah berbeda-beda satu daerah dengan daerah yang lainnya, sementara kebutuhan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan hidup yang layak sesungguhnya adalah sama. Ujar Nurdin, Ketua Federasi Perjuangan Buruh Indonesia Cabang Jakarta, 15/11.

“Ada beberapa syarat yang harus dilakukan sebelum pemberlakuan ULN salah satunya yaitu pemberlakuan Upah Relatif Nasional (URN) yang harus ditinjau tiap 6 (enam) bulan sekali mengikuti gerakan inflasi sehingga kualitas upah buruh di Indonesia semakin meningkat dan mampu memenuhi segala kebutuhan hidup buruh dan keluarganya,” unkap Nurdin, Ketua Federasi Perjuangan Buruh Indonesia Cabang Jakarta pada tanggal 15 November 2014 di Pulogadung.. 

Pekerja PT. Jakarta Central Asia Stell (PT. JCAS) ini menuturkan, kategori upah seperti selama ini telah menghasilkan banyak kelas buruh yang sakit secara fisik (kecelakaan kerja, sakit fisik saat masa kerja, maupun sakit fisik saat sudah tidak ada lagi hubungan kerja tetapi sesungguhnya disebabkan oleh kerja pada masa sebelumnya) maupun sakit secara mental (tidak peduli secara sosial pada keluarga inti, keluarga besar maupun pada lingkungan masyarakat, kerja menjadi tujuan hidup). situasi demikian semakin meng-alienasi-kan (mengasingkan) kaum buruh baik atas hasil kerjanya, atas lingkungan sosialnya sampai apada alienasi atas dirinya sendiri.

Upah Relatif Nasional (URN) merupakan perlindungan hak kaum buruh atas kualitas nilai upah (nominal&riil) untuk mendapatkan kepastian hidup layak bagi kaum buruh dan keluarganya. Besarnya Upah Minimum Propinsi (UMP) disatu daerah dibandingkan daerah lain bukan berarti lebih menguntungkan dibanding dengan daerah yang UMP-nya lebih kecil. Kenapa demikian? karena besaran upah nominal harus berhadapan dengan besaran tingkat harga suatu komoditi-semakin tinggi nominal upah maka semakin tinggi juga tingkat inflasi (kenaikan harga). sehingga nominal tidak berkorelasi lurus dengan kualitas upah rilnya.

Begitu juga dengan daerah yang memiliki besaran UMP renda bahkan paling rendah pasti akan memiliki kemampuan daya beli lebih rendah atas suatu komoditi. Sering sekali kita mendengar bahwa salah satu alasan mendasar yang menjadi pembenaran dan pengesahan besaran UMP yang berbeda adalah tinggi rendahnya inflasi yang tidak sama dimasing-masing daerah.

Misalkan saja kita menggunakan logika tuan penguasa dan pengusaha, pertanyaannya apakah ada pengklasifikasian kebutuhan antara kebutuhan buruh yang memiliki upah rendah dengan buruh yang menerima upah lebih tinggi?. Apakah perbedaan tingkat upah di masing-masing daerah memiliki kesamaan perkembangan hidup layak buruh?. Jika inflasi sebagai dasar lalu kenapa upah pegawai negeri seperti PNS, TNI, POLRI bisa sama secara nasional?.

Lalu bagiamana dengan pengusaha dengan perbedaan tersebut?. Bahwa bagi pengusaha tentu tetap akan memberikan keuntungan. Pada situasi di mana upah buruhnya cukup tinggi dibandingkan dengan daerah lain misalnya upah minimum provinsi DKI Jakarta, situasi tersebut bagi tuan-tuan pengusaha sama sekali tidak  mengalami kerugian. Pengusaha adalah pemilik semua atas hasil-hasil kerja buruhnya sehingga penambahan nominal cost produksi (upah constant) akan ditutupi dengan keuntungan yang sepenuhnya dimiliki oleh pengusaha. 

Jika kita asumsikan perusahaan perkembangannya benar-benar mengalami kerugian tentu tidak bisa dijadikan kesimpulan bahwa faktor upah adalah penyebab utama dari kerugian tersebut karena nominal upah dalam proses produksi hanya lah salah satu komponen dari cost produksi. Dan menjadi tidak mungkin sebuah perusahaan melepas productnya di pasaran di bawah harga produksinya karenanya akan selalu di atas harga produksinya. Sehingga kerugian sebuah perusahaan bahkan sampai terjadinya penutupan perusahaan terdapat banyak factor yang menyebabkan dan sekali lagi kaum buruh yang pertama menjadi korban.

Upah Layak nasional dengan prinsip relative atas dasar relatifnya upah harus dilakukan peninjauan secara periodic (triwulan), jika inflasi tidak mampu dikendalikan dan mengalami peningkatan yang signifikan maka upah harus ditinjau dan disesuaikan dengan inflasi tersebut (upah dinaikkan). Akan tetapi tidak berlaku sebaliknya-jika terjadi deflasi (penurunan harga) peninjauan upah tidak menghasilkan penurunan nilai upah. 
 
Dengan demikian Upah Layak nasional dengan prinsip relative tidak saja sekedar persoalan kesamaan nominal dan kesamaan kualitas upah secara nasional akan tetapi sebagai pelindung hak rakyat atas upah yang layak bagi setiap buruh/pekerja menuju perbaikan hidup yang manusiawi dan berkeadilan.

Upah layak nasional sesungguhnya tidak bertentangan dengan cita-cita nasional sebaliknya menjadi solusi pencapaian cita-cita nasional yaitu memberikan hak setiap warga Negara atas pekerjaan dan penghidupan layak. Konsepsi tersebut memberikan beberapa keuntungan diantaranya;

  1. Upah layak nasional yang sama secara nasional akan mampu memberikan standar kehidupan layak yang sama berdasarkan kemampuan daya beli buruh di masing-masing provinsi.
  2. Bahwa upah layak nasional akan mampu menghentikan perburuan atau pencarian upah murah di semua daerah yang mengakibatkan terjadinya perpindahan modal dari satu daerah ke daerah yang lain seperti perpindahan pabrik yang sering menjadi senjata pengusaha untuk menakut-nakuti buruhnya. 
  3. Upah layak nasional dalam jangka panjang akan mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi di masing-masing daerah baik dari kestabilan kemampuan daya beli maupun dari investasi modal di berbagai daerah dan pada akhirnya secara bersama-sama di semua daerah akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara nasional.
Keuntungan-keuntungan tersebut bisa terealisasikan apabila pemerintah memiliki political will untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Bentuk-bentuk kemauan politik tersebut adalah  
 
Pertama; pemerintah harus segera mencabut semua paket undang-undang dan peraturan yang tidak mampu memberikan dan menjamin hak-hak keadilan dan kesejahteraan rakyat, kemudian mengantikannya dengan undang-undang dan peraturan yang baru termasuk tentang Upah Layak Nasional, yang menjamin keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Kedua; Dalam tindakan, pemerintah harus secara sungguh-sungguh memastikan dilaksanakannya aturan hukum tersebut (tanpa kompromi) dan melakukan intervensi pasar seperti pembukaan lapangan kerja, pengendalian laju inflasi sehingga upah mendapatkan perlindungan baik kuantitas maupun kualitasnya.
 
Sudah seharusnya peran negara dikembalikan di tengah kuatnya kekuasaan modal menghimpit kesejahteraan buruh. Negara harus membuktikan hal ini untuk bekerja dan mengabdi pada kepentingan massa rakyat mayoritas. Inilah yang menjadi salah satu alternatif tawaran buruh dalam memperjuangkan kualitas upah demi kesejahteraan hidup bagi buruhnya dan keluarganya. (sumber)